• 0

    Inovasi

    Selain upaya-upaya Mitigasi, Adaptasi dan berbagai kegiatan pendukung yang secara umum telah dilakukan, terdapat berbagai inisiatif dan pengenalan hal-hal baru yang dilakukan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, swasta, ataupun kelompok masyarakat sipil yang inovatif dalam memanfaatkan berbagai potensi yang ada.

Membuat Kompos Skala Rumah Tangga

Kompos adalah pupuk yang terbuat dari sampah organik yang kaya akan unsur Karbon dan Nitrogen. Secara alami, sampah organik akan mengalami pembusukan dan peruraian oleh ratusan jenis mikroba (bakteri, jamur, ragu) dan berbagai jenis binatang kecil yang hidup di tanah. Proses alami inilah yang dimanfaatkan untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk.

Foto: http://pustaka-pertanian.blogspot.co.id/2013/01/cara-membuat-pupuk-kompos.html

Sampah-sampah yang tergolong sebagai sampah organik adalah sampah-sampah yang bisa mengalami pembusukan akibat proses penguraian secara alami oleh bakteri. Umumnya, sampah-sampah organik adalah sampah yang berasal dari alam, seperti daun-daunan; buah-buahan; kotoran hewan, bubuk teh dan kopi; kulit telur; dan sebagainya.

Proses pengomposan membutuhkan mikroba untuk proses pembusukan. Agar mikroba dapat hidup dan berkembangbiak, diperlukan unsur Karbon sebagai sumber energi bagi mikroba dan unsur Nitrogen untuk perkembangbiakan mikroba. Unsur-unsur ini didapat dari sampah organik. Sehingga perlu dipastikan sampah-sampah organik yang akan dipakai dalam pengomposan memiliki unsur Karbon dan Nitrogen yang seimbang.

Sampah Organik yang kaya Karbon umumnya berciri-ciri kering, kasar atau berserat dan berwarna coklat, misal daun dan rumput kering. Sedangkan ciri-ciri sampah yang kaya akan Nitrogen adalah berwarna hijau dan mengandung air, misal sayuran, buah-buahan dan bubuk teh dan kopi.

Perbandingan yang tepat mempengaruhi kecepatan pengomposan. Umumnya, pengomposan yang baik menggunakan bahan berunsur Karbon dan Nitrogen dengan perbandingan sampah berunsur Karbon 1 bagian dan sampah berunsur Nitrogen 2 bagian. Pastikan sampah hijau tidak terlalu banyak karena akan akan mengeluarkan banyak air. Pastikan juga ukuran sampah coklat tepat karena kalau terlalu banyak pengomposan akan memakan waktu lama atau terhenti.

Untuk pengomposan diperlukan wadah yang berlubang-lubang untuk sirkulasi udara. Wadah tersebut diberi alas jaring plastik yang diisi sabut kelapa atau sekam. Kemudian, untuk mengatur kelembapan dan menyerap kelebihan air sehinga kelebihan air pada adonan kompos tidak merembes, lapisi wadah keranjang dengan kardus. Cacah sampah-sampah organik yang akan dijadikan adonan pupuk. Lalu masukkan ke dalam wadah. Lalu, tambahkan bekatul atau dedak. Lalu, diamkan adonan selama tiga minggu dan kompos siap dijadikan kompos.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat, Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian

Proses pengomposan yang benar akan membuat adonan kompos panas bila diraba atau keluar uap air jika diaduk. Apabila bahan kompos menjadi terlalu basah/berair (biasanya dibarengi bau busuk), jangan dijemur tetapi tambahkan serbuk gergaji. Kemudian aduk adonan sampai merata sampai ke bawah.

Sumber : Kebun Karinda “Pembuatan Kompos Skala Rumah Tangga Metode Takakura”

Kumpulan video tentang dampak, penyebab dan pengertian maupun analisa ilmiah tentang perubahan iklim.

Koleksi dokumen publikasi, kliping dan lainya dari berbagai sumber terkait perubahan iklim.

Kontak informasi pegiat - pegiat yang terlibat dalam aksi - aksi perubahan iklim di atas lahan di Indonesia.

Daftar Istilah dan singkatan terkait perubahan iklim yang dihimpun dari berbagai sumber ilmiah dan ranah hukum.

Kumpulan infografis - Meme - Komik tentang dampak, penyebab dan pengertian maupun analisa ilmiah tentang perubahan iklim.