DJPPI mengkoordinir Penyusunan 20 Submisi ke UNFCCC

DJPPI mengkoordinir Penyusunan 20 Submisi ke UNFCCC

Jakarta, 14 Februari 2018. Submisi ini akan membantu Delegasi Indonesia dalam menyusun posisi Indonesia. Penyusunan submisi merupakan tindak lanjut dari hasil COP 23 dimana lebih difokuskan untuk menghasilkan Modalitas, Prosedur dan Guideline. Kegiatan ini dilaksanakan di Crown Plaza, Jakarta dan dihadiri oleh 75 negosiator dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, KEmenterian Pemberdayaan Perempuan dan Perlundungan Anak, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Kemen ESDM, Kementerian Pertanian, Sekretaris Kabinet, Kementerian Dalam Negeri, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Internasional, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, TNC Indonesia, Hivos, Kementerian Keuangan, Kemen PEkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, KNI-WEC, Badan Restorasi Gambut, Universitas Indonesia dan lingkup KLHK terkait Perubahan Iklim. Para peserta telah mempersiapkan diri yang pada umumnya telah menghadiri Kick off meting yang dilaksanakan pada Tanggal 29 januari 2018 di Gedung Manggala KLHK.

Acara dimulai dengan mengucapkan syukur kepada tuhan YME karena pada hari ini, Tanggal 14 Februari 2018 kita semua dapat hadir melanjutkan pertemuan kick off meeting (dihadiri 100 peserta) yang telah disepakati disepakati 20 call for submission untuk disampaikan, kelompok penyusunan submisi dan koordinatornya dan tata waktunya, kata Achmad Gunawan selaku Direktur Mobilisasi Sumber Daya Nasional dan Regional. Submisi-submisi yang akan disusun saat ini akan membantu dalam pepembahasan Draft Decision Fiji momentum for Implementation yang akan dihasilkan pada Bonn Climate Change Conference (BCCC) yang akan dilaksanakan pada 30 April – 10 Mei 2018. Draft Decision tersebut akan difinalkan sebagai modalitas, Prosedure dan Guideline pelaksanaan paris Agreement yang akan diputuskan pada COP 24/CMP 14 dan CMA 2 pada tanggl 3-14 desember di Kotawice Polandia mendatang, lanjut Gunawan. Beliau juga menyampaikan setelah Kick Off Meeting telah ada tiga kelompok yang emnyerahkan draft submisi yaitu kelompok Agriculture, Adapatasi (loss and damage) dan peningkatan kapasitas.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen PPI, Dr Agus Justianto dalam arahannya mengatakan bahwa dalam rangka persiapan Delri BCCC, KLHK sebagai penanggungjawab melanjutkan hasil pertemuan kick off meeting 29 Jan 2018. Lebih lanjut Beliau mengharapkan hari ini lebih mengelaborasi setiap “Call For Submission” menjadi bahan submisi yang optimal dengan menyamakan pandangan diantara negosiator dan lebih utama lagi diantara para stakeholder. Lebih Lanjut, Pak Agus mengharapkan fokus mengidentifikasi elemen utama pandangan Indonesia dan draft submisi Indonesia serta deadlinenya. Beliau mengharapkan agar timeline yang sudah disepakati, agar djalankan dengan baik. Dengan persiapan submisi yang baik akan memudahkan dalam penyusunan kertas Posisi DELRI untuk Bonn Climate Conference nanti. Kami mendorong pemangku kepentingan agar berkoordinasi secara solid dengan para koordinator agar persiapan dapat dilakukan secara efisien dan efektif sehingga 8 draft submisi dengan due date Januari dan Februari 2018 dapat tercapai, kata Pak Agus.

 

Setelah berlangsungnya FGD Delapan kelompok isu, dilaksanakan presentasi pleno dari masing-masing kelompok dimulai dari tim mitigasi, adaptasi, transparansi framework, peningkatan kapasitas, Gender dan Climate Change, Response Measure, Pertanian, Research and System Observation (RSO). Pada pleno ini, Dr Nur Masripatin sebagai Penasehat Senior Menteri Bidang PPI dan Konvensi International ditunjuk sebagai pembahas. Bu Nur mengatakan agar submisi memiliki nilai pembaruan apabila masih related submisi sebelumnya. Setiap submisi, selalu ada ruang untuk mengangkat Means of Implementation (termasuk Peningkatan kapasitas, pendanaan dan teknologi transfer) terutama pelaksanaan di negara berkembang dalam mendukung komitmen kita untuk adaptasi dan mitigasi, meskipun tidak ada permintaan dari UNFCCC untuk memasukkan hal tersebut di dalam submisi.

Lebih lanjut Ibu Nur memberikan masukan kepada tim Adaptasi pada pembahasaan pendanaan Loss and Damage.   Beliau meminta para negosiator mempertimbangkan bahwa meski isu additional adalah penting, yang perlu dijaga adalah ‘availability’, ‘sufficiency’ dan ‘sustainability’ dari funding tersebut. Pada Pembahasan pelaporan terutama emisi dari Harvested Wood Product oleh tim Transparancy Framework, Ibu Nur menekankan karena ini reporting bagi Annex I, tim negosiator agar memperhatikan syarat dan prasayarat (guidelines untuk annex 1) bagi negara maju (karena reporting Annex I dibawah konvensi berbeda dengan Negara berkembang). Beberapa isu perlu diperhatikan misalnya apakah sudah memperhatikan environmental integrity, apakah menjamin tidak ada double counting. Sedangkan pada bagian peningkatan kapasitas, selain selalu mendukung implementasi NDC, juga perlu ditambahkan peningkatan kapasitas untuk implementasi dari elemen selain dari Paris Agreement.   Untuk workshop yang akan dipersiapkan agar menekankan juga pentingnya ‘affordable’ and ‘user friendly’ communication technology. Pada sector pertanian, negosiasi tentang workprogram agar melihat juga hasil pertemuan di Roma bulan Maret. Masukan juga diberikan ke tim RSO agar mengecek “IPCC Special report on Ocean” sebelum menyarakankan di dalam submisi tentang pentingnya ketersediaan data tersebut demikian juga halnya untuk data-data ilmiah terkait perubahan iklim. Selain itu, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada dan Marine Ecosystem yang lengkap dengan kerentanan tinggi, kita juga justru membutuhkan program-program adaptasi, tegas Bu Nur. Dengan demikian kalua mau mengangkat mitigasi, maka tidak boleh meninggalkan adaptasi.

Setelah acara diskusi tersebut, Dr Agus Justianto menutup pertemuan para negosiator ini. Beliau mengharapkan ke semua pihak agar capaian hari ini dapat ditindaklanjuti sampai mengirimkan submisi ke UNFCCC secretariat. Beliau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kerjasamanya dan kepada Dr Nur Masripatin sebagai pembahas dalam pertemuan ini.

 

membagi informasi ini: