Ikuti Pameran, Manggala Agni Ingin Edukasi Masyarakat Bahaya Karhutla

 Ikuti Pameran, Manggala Agni Ingin Edukasi Masyarakat Bahaya Karhutla

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Minggu, 12 Februari 2017. Dalam rangka sosialisasi dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Manggala Agni Daops Labuhan Batu ikut serta dalam kegiatan Pameran Pembangunan Kabupaten Padanglawas. Acara yang digelar selama empat hari mulai tanggal 9 Februari 2018 ini membuka puluhan stand yang diisi oleh instansi pemerintah, BUMN, dan BUMD.

    

Manggala Agni Daops Labuhan Batu berperan mengkampanyekan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain itu, Manggala Agni menampilkan beberapa peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan seperti: mesin maxtri, selang, nozle, penggulung selang, Y Konector, Nozzle modifikasi daops labuhan batu, pakaian pemadam, Racun Api (peat firex), Racun api cair (Flam Freeze fire), dan peralatan tangan.

Manggala Agni juga memberikan sosialisasi praktik Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sebagai upaya menekan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Manggala Agni juga membagikan brosur PLTB dan membagi contoh olahan PLTB berupa kompos kepada pengunjung. Selain PLTB, Manggala Agni juga mensosialisasi kegiatan adaptasi dan mitigasi untuk menghadapi perubahan iklim seperti: pengenalan proklim, pembuatan biopori dan membagikan kamus perubahan iklim. Selain itu Manggala Agni juga memberikan stiker himbauan pencegahan karhutla, dan profil manggala agni,

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan menjelaskan bahwa Manggala Agni selalu berupaya melakukan upaya preventif dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya karhutla.

"Penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan perlu terus diupayakan", sambung Raffles.

  

Sementara pantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK pada Minggu (11/02/2018) pukul 20.00 WIB, mencatat terdapat 1 titik hotspot yang terpantau satelit NOAA19 Provinsi Sulawesi Utara, dan Satelit TERRA-AQUA (NASA) menunjukan 12 titik hotspot di Provinsi Kalimantan Barat 10 titik, Bangka Belitung 1 titik, dan Kepulauan Riau 1 titik.

Sampai dengan 11 Februari 2018, pantauan Satelit NOAA mencatat jumlah hotspot sebanyak 81 titik di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2017 jumlah hotspot sebanyak 140 titik. Terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 59 titik atau 42,14%.

Sedangkan berdasarkan pantauan satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level 80% terpantau sebanyak 187 titik, pada periode yang sama tahun 2017 jumlah hotspot sebanyak 138 titik. Terdapat kenaikan jumlah hotspot sebanyak 49 titik atau 35,51%.

membagi informasi ini: