• Beranda
  • Berita
  • SERAH TERIMA PILOT PROJECT HASIL KERJASAMA KLHK DENGAN ASIAN DEVELOPMENT BANK (ADB)

SERAH TERIMA PILOT PROJECT HASIL KERJASAMA KLHK DENGAN ASIAN DEVELOPMENT BANK (ADB)

 SERAH TERIMA PILOT PROJECT HASIL KERJASAMA KLHK 

DENGAN ASIAN DEVELOPMENT BANK (ADB)

Bertempat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Jalan Naripan Bandung, hari Rabu tanggal 3 Januari 2018 dilakukan serah terima pilot project (proyek percontohan) dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat kepada kelompok masyarakat. Acara ini dihadiri oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, serta CCROM SEAP IPB dan kelompok masyarakat pelaksana pilot project.


Pilot project tersebut merupakan bagian dari hibah Asian Development Bank (ADB) kepada Kementerian Lingkungan Hidup dalam kerjasama Technical Assistance 7189-INO: Institutional Strengthening for Integrated Water Resources Management in the 6 Cis River Basin Territory (Package E) yang ditandatangani pada tanggal 12 April 2010 dalam sebuah Letter of Agreement (LoA).


Direktur Adaptasi Perubahan Iklim dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari kerjasama ini adalah pembangunan ketahanan iklim yang rendah karbon di DAS Citarum melalui penurunan emisi Gas Rumah Kaca, mengurangi kerentanan perubahan iklim, dan meningkatkan penghidupan bagi kelompok rentan. Kerjasama dilaksanakan dalam 2 fase. Fase I meliputi penyusunan rencana aksi untuk mengarusutamakan perubahan iklim dalam pengelolaan sumber daya air DAS Citarum dan Fase II meliputi pembangunan pilot project adaptasi dan mitigasi. Hasil Fase I berupa kajian kerentanan perubahan iklim DAS Citarum, yang dari kajian tersebut telah dihasilkan Rencana Aksi Daerah Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim untuk 8 kabupaten/kota di DAS Citarum. Selanjutnya untuk memperkuat hasil kajian dan rencana aksi yang telah disusun dikembangkan Program Komunikasi dan Awareness Raising.
Adapun hasil Fase II meliputi pembangunan pilot project mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang terdiri dari:

  1. Pemulihan Waduk Cirata untuk Meningkatkan Kemampuan Adaptasi terhadap Efek Perubahan Iklim oleh Kelompok Tani Bina Cirata Lestari/BCL di Kabupaten Cianjur melalui penyedotan lumpur/sedimen organik dari dalam waduk, menampung, memanfaatkan sebagai penyubur tanaman padi, dan mengolah menjadi batu bata.
  2. Penguatan Kerjasama Antara Koperasi Peternak Sapi Perah dan Peternak Sapi Perah dalam Mengelola Limbah Hewan untuk Mengurangi Emisi GHG dan Meningkatkan Mata Pencaharian Peternak oleh Kelompok Peternak Sapi Ciwantani (KPSC) di Kabupaten Bandung Barat melalui pembangunan biogas digester.
  3. Pengendalian Air untuk Mencegah Intrusi Air Laut di Saluran Irigasi oleh Komite Pendidikan Masyarakat Desa (KPMD) Sungai Buntu di Kabupaten Karawang.
  4. Pemanenan Air Hujan dan Pemanfaatan Air Mata Air oleh Kelompok Pengelola Prasarana Air Bersih Desa/KPPABD di Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung.
  5. Pembangunan Sistem Agroforestri Bertingkat di Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citarum untuk Mengurangi Risiko Iklim oleh Paguyuban Petani Pengelola Tanaman (P3T Plengan) dengan tanaman kopi, jeruk purut dan eucalyptus (kayu putih) di Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung.

Pilot project Pemanenan Air Hujan, Pemanfaatan Air Mata Air, dan Pembangunan Sstem Agroforestri Bertingkat berlokasi di wilayah yang sama di Kecamatan Pengalengan. Pak Heri dari KPPABD menjelaskan bahwa ADB telah membangun instalasi penampungan air dari hutan dan mendistribusikannya ke 750 unit rumah yang saat ini sudah meluas menjadi 1.050 unit. Dahulu sering timbul konflik diantara masyarakat dikarenakan air namun berkat pembangunan penampungan dan sistem distribusi yang dijaga, konflikpun reda. Sedangkan Sistem Pemanenan Air Hujan dibangun di SDN Mulyasari Desa Pulosari. Sistem agroforestri yang dibangun di 9 desa di Kecamatan Pengalengan telah merasakan panen. Tanaman kopi yang dipanen tidak menghasilkan limbah karena kulit kopi dimanfaatkan sebagai briket dan pakan ternak sapi. KPPABD dan masyarakat agroforestri kini tengah fokus pada penggalian potensi 9 desa melalui kegiatan edukasi - ekologi - ekobisnis yang bertujuan tidak hanya secara fisik namun bagaimana mengubah perilaku masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan. Hal ini sejalan dengan program eco village yang dijalankan pemerintah daerah. Saat ini komunitas KPPABD dan masyarakat agroforestri mencapai sekitar 2000 orang yang telah sepakat untuk membentuk generasi cinta lingkungan dan berharap pola seperti ini dapat ditularkan ke desa lainnya. Edukasi dilakukan pada semua kelas umur, pada anak usia sekolah diajarkan untuk menampung air hujan di masing-masing rumahnya. Harapan Pak Heri adalah kawasan Pengalengan yang merupakan daerah hulu dapat berkembang menjadi daerah tujuan wisata yang komplit, satu paket, semua ada disana baik sisi ekologi yang terjaga maupun edukasi pada masyarakat yang terpelihara.

Ibu Hernantini dari KPMD Kabupaten Karawang bercerita mengenai kondisi sebelum dan sesudah dibangun pintu air di saluran irigasi melalui pilot project ADB di Desa Sungai Buntu. Ia membandingkan ketika sebelum dibangun pintu air, air laut yang meluap (rob) hampir setiap minggu masuk ke lahan pertanian dan rumah penduduk. Terlebih ketika musim hujan dengan curah hujan tinggi, rob datang, maka air tidak surut selama 1 bulan. Dampaknya dapat ditebak, petani gagal panen. Kondisi perekonomian para petani menjadi sulit bahkan ada yang kemudian istri petani terpaksa menjadi TKI dan anak-anak terganggu sekolahnya. Kondisi berbeda setelah dibangun pintu air di Dusun Sungai Tegal Desa Sungai Buntu Kecamatan Pedes yang mampu memfasilitasi 550 ha lahan pertanian di 3 desa di 2 kecamatan (Desa Sungai Buntu Kecamatan Pedes 133,9 ha; Desa Kedal Jaya Kecamatan Pedes 150 ha; Desa Pusaka Jaya Utara Kecamatan Cilebar 250 ha). Manfaat nyata yang dirasakan setelah dibangun pintu air adalah petani tidak perlu begadang untuk mengawasi masuknya air laut dan adanya peningkatan produksi. Ketika masa awal setelah dibangun pintu air terjadi peningkatan produksi gabah 2-3 ton dengan harga 3200/kg. Namun pada masa panen terakhir, terjadi peningkatan produksi 5-6 ton gabah dengan harga 5500/kg. Bila dihitung 6000 kg x Rp 5500/kg = Rp 33 juta dikurangi biaya produksi Rp 8 juta maka petani mampu meraup keuntungan Rp 26 juta.


Permasalahan masuknya air laut ke persawahan yang dialami Desa Sungai Buntu ternyata juga dialami di Kecamatan Cilamaya Kulon, Cilamaya Wetan, dan Pakis Jaya. Gagal panen tahun 2014 mencapai kerugian Rp 5-6 milyar. Kedepannya sangat diharapkan pembangunan pintu air dapat terwujud di wilayah ini.

DAS Citarum mencakup wilayah yang sangat luas dan merupakan salah satu dari 15 DAS prioritas nasional untuk dipulihkan. Berbagai sektor bergantung pada kondisi DAS Citarum, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan sumber daya air. Berdasarkan hasil kajian kerentanan perubahan iklim yang dilakukan, nampak telah terjadi perubahan pola hujan di kawasan DAS Citarum sebagai dampak perubahan iklim. Di masa depan, peluang curah hujan yang menyebabkan banjir pada musim hujan meningkat, demikian juga peluang kekeringan di musim kemarau karena curah hujan yang rendah juga meningkat. Dalam menghadapi perubahan iklim, terdapat 2 hal yang dilakukan, yakni mitigasi dan adaptasi. Mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan mengurangi keberadaan Gas Rumah Kaca yang menyebabkan kenaikan suhu bumi yang memicu pemanasan global penyebab perubahan iklim, sedangkan adaptasi perubahan iklim dilakukan melalui berbagai kegiatan untuk menyesuaikan atau mengantisipasi dampak akibat perubahan iklim yang akan terjadi seperti kejadian banjir, kekeringan serta kenaikan muka air laut.

Pembangunan pilot project telah selesai dan menjadi lesson learned yang sangat bermanfaat sebagai langkah awal untuk melakukan replikasi bagi pembangunan serupa di lokasi lain. Replikasi sejalan dengan Gerakan Citarum Bestari (bersih sehat indah lestari) yang digalakkan pemerintah daerah di DAS Citarum dan bukan tidak mungkin bila kedepannya dapat didukung oleh gerakan tersebut. Lahan kritis di DAS Citarum hulu mencapai ribuan hektar, agroforestri menjadi salah satu jawabannya. Tantangan ke depan bagi pengembangan biogas digester yang berasal dari kotoran sapi adalah, bagaimana mengemas gas yang dihasilkan sehingga dapat dimanfaatkan bagi masyarakat luas, demikian kutipan pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat sekaligus menandai berakhirnya acara serah terima.

 

membagi informasi ini: