Kampanye Cegah Karhutla di TN Gunung Merbabu

 

Kampanye Cegah Karhutla di TN Gunung Merbabu

Jakarta, Senin, 4 Desember 2017. Kampanye penyadartahuan kepada masyarakat mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan oleh KLHK bersama para pihak. Salah satu aksi yang dilakukan adalah kampanye yang dilaksanakan di salah satu desa penyangga Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu tepatnya di wilayah Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah (03/12/2017).

Acara ini digelar oleh Balai TN Gunung Merbabu bersama Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK. Masyarakat diberikan sosialisasi mengenai bahaya karhutla dan sekaligus dihimbau agar mencegah karhutla. Kampanye diisi oleh Kepala Balai TN Gunung Merbabu; Kasubdit Pencegahan Karhutla, Direktorat PKHL; Kapolsek Ampel; dan Camat Ampel.

Terkait dengan bencana longsor dan banjir yang terjadi di beberapa daerah, beberapa narasumber juga mengingatkan untuk melaksanakan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air dalam praktek pertanian masyarakat. Diantaranya dengan menerapkan teknik terasering dan menanam tanaman keras untuk menghindari bencana longsor.

Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Edy Sutiarto, mengajak masyarakat dan semua elemen untuk menyelamatkan, melestarikan, dan mengamankan kawasan TN Gunung Merbabu agar bisa memberikan manfaat yang berkelanjutan dan terjaga dari bencana.

Kampanye yang dihadiri ratusan orang ini berlangsung dengan meriah. Panitia juga menghadirkan panggung hiburan rakyat dan beragam doorprize. Masyarakat yang hadir dalam acara ini selain dari masyarakat desa penyangga juga dari komunitas masyarakat lainnya, antara lain Masyarakat Peduli Api, Masyarakat Mitra Polhut, Regu Pecinta Alam, UPK se-Boyolali dan Tim SAR.

Pada kesempatan lain, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B. Panjaitan menegaskan bahwa dua tahun terakhir ini tidak terjadi karhutla di TN Gunung Merbabu. Hal ini tidak lepas dari kerjasama para pihak dan partisipasi masyarakat untuk menjaga kawasan konservasi ini.

“Masyarakat juga dapat membantu petugas dalam melakukan pengawasan dan patroli di kawasan hutan. Selain itu dapat menyampaikan informasi kepada petugas apabila menemukan oknum yang melakukan pembakaran hutan”, imbuh Raffles.

Sementara, sampai tanggal 3 Desember 2017 malam, pantauan hotspot satelit NOAA terpantau 1 titik hotspot di Kalimantan Selatan. Sedangkan pantauan hotspot satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level ≥80% tidak menunjukkan adanya hotspot di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan demikian, berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari – 3 Desember 2017, terdapat 2.556 hotspot di seluruh Indonesia. Sedangkan periode yang sama di tahun 2016, tercatat 3.790 hotspot, terdapat penurunan 1.234 hotspot (32,55%).

Penurunan sejumlah 1.454 titik (38,18%) juga ditunjukkan oleh satelit TERRA-AQUA (NASA) confidence level ≥80%, yang mencatat 2.354 hotspot di tahun ini, sebelumnya di tahun 2016 tercatat 3.808 hotspot.

 

membagi informasi ini: