Berita Khusus: Angin Segar Untuk Pertanian di COP 23

 Berita Khusus: Angin Segar Untuk Pertanian di COP 23

Setelah bertahun-tahun menegosiasikan isu pertanian dibawah UNFCCC,  pada akhirnya  ada titik terang sebagai kesimpulan persidangan SBSTA 47 di Bonn.  Perjuangan kelompok negosiasi terbesar Group 77 dan china (Kelompok negara berkembang) akhirnya membuahkan hasil.  Selama seminggu berjuang dengan tujuh kali pertemuan kontak group yang diakhiri dengan 20 menit di hari senin akhirnya,  dua belah pihak negara berkembang dan negara maju menghasilkan draft kesimpulan SBSTA yang diadopsi pada Tanggal 15 November 2017.  Isi dari kesimpulan ini terutama mensintesa hasil dari lima in session workshop yang pada dasaranya membicarakan elemen-elemen penting terutama kesimpulan SBSTA 47 terutama teknologi untuk melakukan pertanian berkelanjutan.  Dr Nur Masripatin sebaai National Focal Poin dan “chief negosiator” menyampaikan kelegaannya atas hasil yang dicapai dipersidangan isu pertanian di COP 23 ini. 

Lebih lanjut Ibu Nur menekankan bahwa Indonesia menyambut draft decision -/CP.23 yang meminta SBSTA dan SBI untuk menegosiasikan isu yang berkaitan dengan pertanian berdasarkan pada lima in session workshop serta submisi yang akan datang. Ibu Nur juga menyampaikan betapa Indonesia sangat berkepentingan pada isu ini,  karena pertanian kita merupakan sektor paling rentan terhadap perubahan iklim, disusul dengan kesehatan dan kenaikan air muka laut (menurut studi USAID project, 2016).  Secara khusus Indonesia sangat senang karena berhasil diakomodir usulan Indonesia untuk  yaitu memasukkan beberapa hal yang menjadi kepentingan Indonesia di COP 23.

Dr Bess Tiesnamurti,  lead negosiator DELRI  untuk pertanian mengatakan usulan Indonesia tentang Water managemen murni kekhawatiran dari lapangan.  Saat ini sudah banyak Daerah Aliran Sungai yang rusak dan musim hujan sudah tidak beraturan yang meyebabkan kekeringan dan pasokan air untuk pertanian sangat minum bahkan tidak ada.  Begitu pula pada musim kemarau sangat mengganggu masayrakat petani di Indoensia.  Kementan sudah berusaha membangun berbagai inovasi termasuk embung.  “Alhamdulillah”  usulan kita diterima teman-teman di group 77 dan china yang memiliki persoalan yang sama.  Beberapa negara maju tidak bergitu senang karena kemungkinan akan memeproleh beban baru dalam mendukung pendaaan,  teknologi dan peningkatan kapasitas. 

Keberhasilan negosiasi ini mendorong kita untuk lebih aktif lagi di proses negosiasi dan kreatif di lapangan,  kata Ibu Nur.  Program Kampung Iklim (PROKLIM) dapat berperan penting dan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian untuk megantisipasi kekeringan dan banjir dengan bersama-sama menemukan invoasi di lapangan agar dapat mengurangi dampak dari perubahan iklim terhadap pertanian.  Embung dan danau kecil menajdi program utama dalam Kampung iklim yang dapat mengurangi resiko kekegalan para petani di Indonesia.  Sekali lagi selamat kepada tim pertanian yang telah memasukkan kepentingan Indonesia pada in session workshop dua tahun lalu dan beberapa hal lain pada tahun ini.  PR untuk tanah air  harus digarap bersama-sama sepulang dari COP 23 untuk isu pertanian ini yang membutuhkan kerjasama NFP dengan Kementan dan Kementan dengan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan lainnya, kata Ibu Nur selaku ketua tim negosiasi Delri (*). 

Tags: Sekretariat Direktorat Jendral, Liputan COP22 Marakesh

membagi informasi ini: