• Beranda
  • Berita
  • Program WEBINAR UNFCCC: Indonesia diundang untuk berbagi informasi perkembagan implementasi NDC

Program WEBINAR UNFCCC: Indonesia diundang untuk berbagi informasi perkembagan implementasi NDC

 Program WEBINAR UNFCCC:  Indonesia diundang untuk berbagi informasi perkembagan implementasi NDC

Nationally Determined Contribution (NDC) merupakan dokumen negara berisi rencana program pengurangan emisi (mitigasi) dan pelaksanaan program adaptasi di suatu negara yang disampaikan ke UNFCCC Sekretariat.  NDC sebagai portfolio nasional ini disetujui oleh 195 negara yang tertuang dalam  Perjanjian Paris.  Sampai saat ini sudah ada 153 negara yang meratifikasi Perjanjian Paris dan telah menyampaikan NDCnya termasuk Indonesia.  Hasil analisis menyatakan rencana penurunan emisi global tersebut apabila semuanya dilaksanakan sesuai dengan target-target yang direncanakan dapat menurunkan emisi yang signifikan pada tahun 2030.  Untuk mengetahui persiapan dari implememtasi NDC,  UNFCCC akan mengadakan “facilitative dialoq” pada tahun 2018 yang akan membicarakan perkembangan persiapan implementasi NDC.  Sebelum acara tersebut,  UNFCCC  Secretariat mengadakan Webinar untuk mengetahui status implementasi NDC di beberapa Negara. Indonesia yang diwakili oleh Dr. Nur masripatin sebagai National Focal Point untuk UNFCCC terpilih untuk membagi informasi pada webiner yang dihadiri oleh 16 negara dan beberapa orang dari FAO pada Tanggal 20 July 2017 Pukul 19.00 WIB dari Situation Room Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim.

Dr. Nur Masripatin menjelaskan perkembangan terkini persiapan implementasi NDC di Indonesia dalam waktu 10 menit.  Presentasi Ibu Nur berjumlah lima slide dimulai dengan table target penurunan emisi persektor di dalam first NDC Indonesia, dimana sekaligus menjelaskan target penurunan dengan pendanaan pemerintahdalam negeri (unconditional) dan target penurunan pada saat memperoleh dukungan dari luar negeri (conditional).  Slide kedua menjelaskan dua sector berkontribusi terbesar yaitu 17,2% pengurangan emisi dari kehutanan dan  11% dari sektor energi.  Slide ketiga menjelaskan perbandingan upaya target penurunan berdasarkan pada history business as usual dimana pada sector kehutanan mencapai 70% dari BAU sektornya, sedangkan sector energi masih banyak kesempatan menurunkan emisinya karena intervensi yang ditargetkan sekarang ini baru 19% dari BAU sektornya.  Slide keempat menjelaskan Sembilan program implementasi NDC, sedangkan slide terakhir menjelaskan capaian dimasing-masing program tersebut diantaranya one data policy dari GRK melalui program SIGN Smart sebagai tool untuk inventarisasi emisi GRK nasional,  Sistem Registri Nasional (SRN) termasuk MRV untuk aksi mitigasi,  adaptasi dan Joint Mitigation and Adaptation serta dukungan pendanaan, teknologi dan peningkatan kapasitas.

Pada Sesi tanya jawab, peserta Webiner menanyakan tentang beberapa hal termasuk persentasi emisi dari gambut,  pada bagian adaptasi focus area intervensinya,  keterlibatan pihak swasta dalam LULUCF, integrasi SDG dan NDC serta permintaan rekomendasi dalam pengelolaan LULUCF terutama di bidang kehutanan dan pertanian.  Ibu Nur menjawab pertanyaan tersebut dimulai dari kontribusi gambut dalam NDC, dimana target penurunan emisi sector lahan telah memasukkan gambut,  ada 15 juta ha gambut di Indonesia,  2 juta ha akan direstorasi hingga tahun 2030.  Namun demikian Indonesia masih menghadapi tantangan karena masih besarnya “uncertainty” dalam perhitungan sehingga diperlukan dukungan teknis untuk meningkatkan metodologi.  Pada pertanyaan terkait adaptasi,  Ibu Nur mengatakan bahwa ada tiga area utama yaitu ketahanan ekonomi, ketahanan social dan livelihood serta ketahanan ekosistem dan bentang alam. 

Ibu Nur juga mendetailkan tentang peranan swasta dalam upaya penurunan emisi.  Ia menjelaskan bawah program REDD+ di Indonesia banyak dikelola oleh Pihak Swasta.  Dari hasil pemetaan area yang dihitung dalam FREL,  banyak area yang masuk dalam kawasan konsesi swasta dimana perijinannya dikeleluarkan oleh pemerintah sehingga akan ditemukan kontribusi dari swasta dalam penurunan emisi di lahan konsesinya.   Sedangkan pertanyaan yang terkait dengan SDG,  Ibu Nur mengatakan bahwa yang paling penting adalah bahwa proses NDC ini alligning dengan SDG.  Permintaan berbagi pengalaman dalam mengelola lahan di Indonesia,  Ibu Nur menjelaskan bahwa Indonesia sangat kompleks,  program penurunan emisi di bidang lahan dan kehutanan akan menfokuskan pada penurunan deforestasi dan degradasi hutan, penanganan kebakaran gambut dan dekomposisi gambut.  Berdasarkan pada pengalaman,  Indonesia menekankan pengalaman pada pentingnya  memiliki konsisten remote sensing data dan memiliki kebijakan satu data GRK (one policy GHG data).  UNFCCC secretariat berterima kasih kepada Ibu Nur yang mewakili Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam mempersiapkan implementasi NDC dan meyakini pengalaman Indonesia ini akan menjadi bagian dalam Facilitative Dialoq yang akan diselenggarakan pada tahun 2018 mendatang.

Tags: Sekretariat Direktorat Jendral

membagi informasi ini: