• Beranda
  • Berita
  • Pengembangan Kebun Bibit Tanaman Hutan Untuk Mendukung Ketahanan Masyarakat Desa Menghadapi Perubahan Iklim

Pengembangan Kebun Bibit Tanaman Hutan Untuk Mendukung Ketahanan Masyarakat Desa Menghadapi Perubahan Iklim

Pengembangan Kebun Bibit Tanaman Hutan Untuk Mendukung Ketahanan Masyarakat Desa Menghadapi Perubahan Iklim

TOT bagi Fasilitator Desa Program SPARC

Bali, 22-24 Mei 2017

Pengembangan mata pencaharian alternatif bagi wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim perlu terus diupayakan untuk memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat. Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakteristik alam serta kondisi sosial dan ekonominya merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih dalam penguatan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. Untuk itu Program Strategic Planning and Action to strengthen climate resilience of Rural Communities (SPARC) sejak tahun 2013 telah melaksanakan kegiatan sampai ke tingkat desa guna mendukung upaya penguatan ketahanan pangan, air dan diversifikasi mata pencaharian masyarakat desa dalam menghadapi iklim yang berubah. Program SPARC dilaksanakan atas kerjasama Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Pemerintah Daerah NTT yang dikoordinasikan oleh BAPPEDA Provinsi NTT, serta didukung oleh dana hibah Global Environment Facilities (GEF) yang disalurkan melalui UNDP.

Beberapa daerah di NTT antara lain seperti kabupaten Sabu Raijua dan Sumba Timur menghadapi tantangan ketersediaan air yang semakin menipis akibat minimnya upaya konservasi air dan juga dampak tidak langsung dari variabilitas iklim yang terjadi saat ini. Dilain pihak kehidupan masyarakat NTT masih sangat tergantung pada sektor kegiatan yang sensitif terhadap variabilitas iklim, seperti petani dan nelayan. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mendorong masyarakat mempunyai keragaman mata pencaharian alternatif maka SPARC menyelenggarakan kegiatan Pelatihan bagi Pelatih (training of trainers atau ToT) dengan topik “Kebun Bibit Tanaman Hutan Adaptif Kekeringan” yang diikuti oleh 21 Fasilitator Desa serta 15 orang perwakilan tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mitra SPARC dan koordinator kabupaten. Kegiatan pelatihan dilaksanakan mulai tanggal 22-24 Mei 2017, bertempat di Haris Hotel Sunset Road-Bali. Kegiatan ToT tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Dra. Sri Tantri Arundhati, MSc dan bersama-sama dengan Sekretaris Bappeda NTT, Agustinus Fahik, MM dan Kepala BBPP-BPTH Yogyakarta, Ir. Tandya Tjahjana, M.Si.

Fransiska Sugi, National Project Manager SPARC menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan langkah awal agar fasilitator desa memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan untuk membangun tempat pembenihan dan menyiapkan bibit siap tanam di tingkat desa. Dengan demikian diharapkan warga desa bisa lebih mudah mengakses bibit tanaman, serta memastikan bahwa benih dan bibit yang dihasilkan sesuai dengan karakter lokasi masing-masing.

Dalam sambutannya mewakili Bappeda NTT, Agustinus Fahik, MM yang juga Sekretaris Bappeda NTT, menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan ToT ini. “Lahan kering di NTT jauh lebih luas dari lahan basah. Sayangnya kebijakan di tingkat nasional dan di tingkat provinsi belum berpihak pada pemanfaatan lahan kering,” ujarnya. Sehingga, ia menekankan pentingnya upaya pengelolaan dan pemanfaatan lahan kering di NTT secara optimal, termasuk melalui pengembangan Agroforestry yang memiliki nilai konservasi lingkungan yang tinggi. Ia berharap, fasilitator desa yang dilatih dapat menjadi ujung tombak untuk memberi motivasi dan mendorong masyarakat mengelola lahan kering di lokasi masing-masing secara lebih optimal. Dari sisi penganggaran, peluang itu ada pada pengelolaan dan pemanfaatan dana desa untuk kegiatan pembangunan sumber benih maupun hutan desa. Fasilitator desa bisa lebih aktif melakukan advokasi agar kegiatan-kegiatan semacam itu bisa diakomodir dalam kebijakan pembangunan dan anggaran di tingkat desa.

Sedangkan Kepala BBPP-BPTH Yogyakarta, Ir. Tandya Tjahjana, M.Si dalam sambutannya selain menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini, ia juga totspac2mempresentasikan sejumlah peluang kolaborasi pada masa mendatang baik itu dengan SPARC maupun dengan pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT. “Salah satu upaya yang saat ini telah dilakukan adalah mengembangkan benih unggul tanaman cendana. Selain untuk melestarikan tanaman ikonik NTT itu, juga untuk menemukan benih yang lebih unggul dan mampu tumbuh di lokasi lain di luar habitat asalnya”, ujarnya. Ia berharap peserta pelatihan bisa mendapatkan manfaat lebih dari kegiatan ToT ini sehingga bisa menjadi agen perubahan di tingkat desa.

Dra. Sri Tantri Arundhati, MSc, selaku Direktur Adaptasi Perubahan Iklim pada Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang juga menjabat sebagai National Project Director SPARC dalam sambutannya saat membuka kegiatan ini, mengatakan bahwa aksi-aksi adaptasi perubahan iklim yang sudah dilakukan bersama SPARC di tingkat desa maupun kabupaten dan provinsi juga harus didukung dengan upaya-upaya konservasi lingkungan dengan memperhatikan konteks dan karakteristik setiap wilayah. “Saya berharap fasilitator desa bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi dan belajar langsung dari para peneliti yang menjadi nara sumber. Ini kesempatan yang baik sehingga jangan disia-siakan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para nara sumber yang bersedia meluangkan waktu untuk melatih fasilitator desa dan LSM mitra SPARC dan berharap ToT ini menjadi titik awal hubungan antara fasilitator desa amupun LSM mitra SPARC dengan para peneliti dari BBPP-BPTH. “Sehingga kedepannya, bapak ibu dari desa maupun kabupaten bisa juga langsung berkonsultasi dengan para pakar tanaman yang ada.”  

Pada pelatihan selama 3 hari tersebut peserta dibimbing oleh tiga peneliti dari BBPP-BPTH Yogya yakni Dr. Rina Laksmi, MP, Liliek Haryjanto, S.Hut, M.Sc dan Yayan Hadiyan, S.Hut, M.Sc. Dua hari pertama, peserta mendapatkan materi teori tentang perubahan iklim dan adaptasi tanaman, pengenalan sumber benih, uji terkontrol dan lapangan, serta evaluasi dan analisa data. Selama pelatihan, peserta juga bersama-sama membahas berbagai hal yang dibutuhkan dalam membangun kebun sumber benih desa sesuai dengan kondisi desa/daerah masing-masing. Peserta juga membuat rencana kerja pembangunan kebun bibit di masing-masing desa, termasuk jenis pohon yang akan dikembangkan untuk konservasi. Pada hari ketiga, peserta berkunjung ke lokasi taman konservasi Mangrove dan ke Persemaian Permanen milik BPDAS Bali.

Informasi lebih lanjut:

-          Dra. Sri Tantri Arundhati, M.Sc.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Ditjen PPI, KLHK

Telp./Fax : +62 21 5747054

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

-          Ir. Wayan Darmawa, MT

Kepala Bappeda Provinsi NTT

Telp/Fax : (0380) 833462, 832975

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Tags: Adaptasi Perubahan Iklim

membagi informasi ini: