Pekerjaan Rumah Delri Menuju COP 23

Pekerjaan Rumah  Delri Menuju COP 23

Setelah sukses mengikuti Bonn Climace Change Conference pada Tanggal 7-18 Mei  2017,  Delegasi Indonesia akan menindaklanjuti hasil persidangan SBSTA 46,  SBI46 dan APA 1-3.  Selama dua minggu Indonesia telah menyampaikan pandangannya di berbagai bentuk persidangan.  Indonesia melalui Dr Nur Masripatin pada sesi pembukaan  (melaui APA)  dan  penutupan (melalui SBSTA)  menyampaikan penekanan kepentingan Indonesia termasuk proses persidangan, elemen kunci dalam agenda APA dan SBs, serta way forward. Agenda lain yang penting bagi Indonesia terkait mitigasi berupa modalitas untuk NDC,  transparasi framework dan MRV telah disampaikan melalui persidangan APA baik pada minggu pertama maupun minggu kedua.  Sedangkan terkait Adaptasi termasuk pelaporan (adaptation Communication) dan pendanaannya juga telah ditekankan melalui APA dan SBI.  Namun Ibu Nur kembali menekankan bahwa apa yang dihasilkan pada BCCC ini merupakan catatan penting bagi keputusan COP mendatang.  Masih banyak submisi yang harus kita persiapkan di tanah air,  demikian juga halnya dengan analisis pada sintesis report dan reflection note dari pada co facilitator terutama APA yang membahas Modalitas,  Prosedur dan Guideline (MPG) atau sering disebutkan “Paris Rules Book”.  Ini penting sekali sebagai rambu-rambu implementasi Paris Agreement dan NDC kita di dalam negeri,  Kata Ibu Nur.

Perjuangan Indonesia menempatkan benih kepentingan Indonesia dalam draft-draft conclution dan reflection note di masing-masing persidangan di Bonn ini harus dijaga momentumnya untuk dihidupkan dalam decision COP mendatang.  Pekerjaan Rumah kita cukup banyak setelah BCCC ini,  diharapkan semua DELRI yang telah ikut pada session ini untuk segera mempelajari hasil-hasil tersebut, kata Ibu  Nur.  Khalawi Abdul Hamid,  Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Industri dan Lingkungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang juga hadir pada BCCC ini, mengatakan bahwa sinkronisasi elemen pembahasan yang ada di persidangan UNFCCC ini perlu dirumuskan terutama yang terkait dengan PUPR.  Disini Gudang Ilmu yang perlu diurai dan dikaitkan dengan dampak perubahan iklim di Indonesia termasuk ke desain infrasturktur dan perumahan tahan iklim.  Demikian juga halnya dengan Ibu Vennetia R. Danes, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, KPPPA, yang juga lead negosiator untuk isu gender medukung sepenuhnya pandangan untuk merumuskan pengarusutamaan isu gender disemua aspek terkait perubahan iklim.  Ibu Agustina Murbaningsih, Deputi Bidang Perekonomian, Setkab RI, yang juga sebagai lead negosiator untuk response measure sangat menekankan kepada tim negosiator agar benar-benar menekankan pentingnya penyiapan dalam shifting pertumbuhan ekonomi dari yang berbasis fossil fuel ke implementasi green growth economy yang berkelanjutan. 

Selain hal-hal di atas, kita perlu segera mempersiapkan berbagai hal terkait keikutsertaan Delegasi Indonesia ke COP 23 mendatang pada Tanggal 6-17 November 2017 di World Conference Center di Bonn. Sebanyak 197 negara akan menghadiri kegiatan tahunan ini termasuk Delegasi Indonesia.  Untuk mengoptimalkan persiapan Delegasi Indonesia diperlukan koordinasi dan kerjasama semua pihak terkait dalam menyusun substansi yang relevan dalam agenda COP 23 mendatang.  Selain itu perjuangan Indonesia juga akan dilaksanakan dengan menghadirkan Pavilliun Indonesia sebagai sarana memperkenalkan dan menginfromasikan ke dunia tentang upaya Indonesia setelah menandatangani Perjanjian Paris,  komitmen Indonesia yang sudah digambarkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus memperkenalkan persiapan yang telah dilaksanakan di Indonesia termasuk berbagai kebijakan baru dan system yang telah dibangun termasuk kemajuan pelaksanaan Sistem Registrasi Nasional (SRN). 

Akhirnya sebagai Head of Delegation ,  Ibu Nur menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih atas kerjasama yg baik selama di Bonn. Penanganan  Perubahan iklim memerlukan peran semua pihak baik di negosiasi maupun dalam implementasinya. Karena itulah semangat kerjasama selama jauh dari tanah air perlu terus  kita perkuat agar Indonesia mampu deliver apa yg telah dijanjikan di bawah Perjanjian Paris.  Semoga kekompakan selama di Bonn dapat mendorong semua pihak si semua level yang belum aware/belum committed atas pemenuhan janji dalam NDC. Janji ini bukan semata untuk global tapi lebih untuk negeri dan bangsa kita sendiri.  Berarti kita semua yang mengikuti BCCC ini  perlu menjadi 'Champion' di bidangnya masing-masing. Di bawah Perjanjian Paris ada High Level Champion, kita buat diri kita jadi champion Perjanjian Paris di negeri sendiri untuk negeri dan bangsa tercinta  serta dalam rangka menjaga SDA yg kita pinjam dari generasi mendatang, kata Ibu Nur kepada semua Delegasi yang bersiap/telah kembali ke tanah air. 

Tags: Liputan COP22 Marakesh

membagi informasi ini: