• Beranda
  • Berita
  • Indonesia Menyampaikan Peran Rehabilitasi Lahan Terdegradasi dan Restorasi Gambut dalam NDC di Side Event IUCN dan IIASA

Indonesia Menyampaikan Peran Rehabilitasi Lahan Terdegradasi dan Restorasi Gambut dalam NDC di Side Event IUCN dan IIASA

 

Indonesia Menyampaikan Peran Rehabilitasi Lahan Terdegradasi dan Restorasi Gambut dalam NDC di Side Event IUCN dan IIASA
Kerjasama The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan The International Institute for Apllied Systems Analysis (IIASA) mengadakan side event dengan Tema Contribution of Forest Landscape Restoration to NDC. Pembicara dalam acara tersebut bertutur-turut Dr Nur Masripatin dari Indonesia, Leticia Guimaraes dari Brazil, Florian Kraxner dan Ping Yowargana dari IIASA serta Maria Garcia Espinosa dari IUCN dengan moderator Sandeep Sengupta juga dari IUCN. Side event ini bertujuan untuk menunjukkan konrtibusi dari kegiatan restorasi skala bentang alam (landscape restoration) terhadap pencapaian target dari Nationally Determined Contribution (NDC). Side Event ini dihadiri oleh 60 orang para ahli bidang lahan baik dari perwakilan negara, perwakilan LSM maupun dari praktisi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 17 Mei 2017 di Ruang Berlin, World Climate Conference Center
Dari data global yang dibuat oleh IUCN bahwa terdapat 1 Milliar sampai lebih dari 6 Milliar ha (Gbss and Salmon, 2015). Kegiatan restorasi hutan yang telah rusak di dunia berpotensi memberikan kontribusi sequestration sampai 15,1 Gton CO2. Melalui kegiatan restorasi global tersebut dapat memberikan keuntungan ekonomi sebesar 46.595 juta USD. Salah satu bentuk utama kegiatan dari Forest Landscape Restoration ini adalah Bonn Chllange dengan berbagai tujuan kegiatan termasuk pembangunan desa, mengurangi emisi dari deforestasi, meningkatkan adaptasi, dan memberikan kesempatan pada climate-smart Private Sector investment. Global Bonn challenge target adalah enangani 150 juta ha lahan terdeforestaso dan terdegradasi sampai tahun 2020 dan 350 juta ha pada tahun 2030.
Pada kesempatan side event ini, Dr Nur masripatin mewakili Indonesia memberikan infromasi tentang program-program forest and land sectors yang telah ditetapkan dalam Nationally Dtermined Contributio Indonesia. Dari 29% target penurunan emisi, 17,2 % berasal dari sector LULUCF (Land use, Land use and Firestry). Ibu Nur menjelaskan bahwa di dalam NDC Indonesia akan mengurangi emisi pada tahun 2020 dari sektor hutan dan lahan sebesar 497 juta ton CO2e sampai tahun 2030. Ada empat area utama yang akan dilaksanakan dalam pencapaian penurunan emisi tersebut termasuk mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan termasuk pengendalian kebakaran, mengatur produksi kayu dari hutan alam, meningkatkan produksi dari hutan tanaman dengan meningkatkan produktivitas hutan tanaman dan mengupayakan target penurunan net emisi melalui restorasi gambut (target 2 juta ha) dan rehabilitasi lahan terdegradasi (target 12 juta ha), kata Bu Nur dalam presentasinya.
Pada sesi diskusi, para peserta memberikan pertanyaan pada Indonesia termasuk ekstensifikasi pemanfaatan lahan untuk sawit dibanding pemanfaatan lahan yang terdeforestasi dan terdegradasi. Ibu Nur mengatakan bahwa defenisi dari landscape bagi Indonesia sebagai negara kepulauan perlu dilihat range-nya dari mulai ekosistem darat/gunung ke ekosistem laut (Ridge to reef/R2R) dimana pengelola kawasan juga berbeda-beda (authorities) serta beragam actor yang terlibat. Hal-hal tersebut menjadi tantangan tersediri bagi Indonesia termasuk pemanfaatan lahan untuk sawit. Pada Era Presiden Jokowi sejak tahun 2014 telah melakukan banyak reformasi kebijakan pada pengelolaan hutan dan lahan terutama yang terkait dengan ekosistem gambut. PP tentang gambut diperbaharui yang diikuti lahirnya beberapa Peraturan Menteri LHK untuk penataan pengelolaan ekosistem gambut termasuk didalmnya restorasi. Selain itu Presiden juga membantuk Badan Restorasi Gambut yang dimandatkan untuk restorasi gambut.
Mengomentari pengalaman Asutralia dimana beberapa kawasan tidak perlu intervensi dengan penanaman dalam restorasi kawasan karena telah terjadi revegetasi secara alamiah. Ibu Nur mengatakan di Indonesia juga sangat memungkinkan bila tidak ada tekanan penggunaan lahan untuk keperluan lain di kawasan tersebut. Dibanyak wilayah, upaya pemulihan memerlukan intervensi melalui kegiatan penanaman; meskipun upaya membantu regenerasi alami juga terus bertumbuh seperti misalnya yang dilakukan di beberapa kawasan pesisir, tetapi tetap memerlukan campur tangan manusia untuk memungkinan terjadinya regenerasi secara alami.
Ibu Nur juga menambahkan infromasi tentang keterlibatan local community dan isu gender dalam perencanaan pengelolaan hutan, rehabilitasi lahan dan restorasi gambut. Di Indonesia, pemerintah telah mengakui hak adat serta mengalokasikan lahan untuk masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Terkiat dengan isu gender, Ibu Nur mengatakan sudah menjadi mandatory untuk melibatkan perempuan di semua level pemerintah dan disetiap sector.

(Muhammad Farid, Tim Kom DELRI)

Tags: Liputan COP22 Marakesh

membagi informasi ini: