Jelang Pelaksanan BCCCC, Indonesia Meyerahkan 8 Submission

 Jelang Pelaksanan BCCCC, Indonesia Meyerahkan  8 Submission

Perundingan SBSTA 45 dan SBI 45 serta APA 1.3 yang dilaksanakan di Marrakesh tahun lalu telah menyimpulkan beberapa hal termasuk kebutuhan untuk membuat submisi pada isu-isu negosiasi tertentu.  Permintaan submisi tersebut dilaksanakan untuk menghimpun informasi yang beragam dari berbagai pengalaman dan pembelajaran di masing-masing negara anggota konvensi PBB tentang Perubahan Iklim.  Submisi yang diminta sampai pelaksanaan COP 23 mendatang di Bonn  sebanyak 25,  Indonesia telah menyampaikan 12 submisi dimana delapan diantaranya disampaikan sebelum pelaksanaan Bonn Climate Change Conference pada 8-18 Mei 2017 di Bonn-Jerman. 

Delapan submisi Indonesia sangat terkait dengan perkembangan persiapan pelaksanaan Nationally Determined Contribution (NDC) dan perangkat pelaksanaannya (modalitiesnya) termasuk kebijakan,  prinsip dan pedoman pelaksanaannya.  Diantara submisi tersebut termasuk pandangan Indonesia mengenai global stocktake, transparancy framework, sumber dan mekanisme lain dari pendanaan iklim dan beberapa elemen adaptasi perubahan iklim.  Global stocktake merupakan salah satu elemen dari pelaksanaan Perjanjian Paris melalui NDC yang akan menilai seberapa jauh pelaksanaannya dengan capaian quantitative penurunan emisi dan pengendalian dampak perubahan iklim melalui program adaptasi.  Transparancy framework sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan NDC karena pada elemen Perjanjian Paris ini mengatur tentang clarity dari metode perhitungan,  transparan tentang  prosesnya dan understanding tentang hasilnya.

Dr Nur Masripatin, selaku Ketua Delegasi Indonesia mengatakan submisi yang dibuat bersama dengan pemangku kepentingan di Jakarta sangat penting bagi Delegasi Indonesia sebagai dasar dalam melakukan intervensi pada proses negosiasi.  Intervensi juga dapat dilakukan berdasarkan pada posisi Indonesia yang telah dirumuskan di Jakarta.  Delegasi Indonesia berasal dari berbagai kementerian dan lembaga.  Koordinasi yang dilaksanakan setiap hari pada sore hari akan mempermudah delegasi untuk mendiskusikan status setiap isu dan bagaimana memasukkan intervensi sesuai dengan kepentingan Indonesia.

Adanya submisi ini juga akan memudahkan Indonesia untuk berkoordinasi dengan group dan party lain untuk melihat kesamaan dan perbedaan perjuangan dari negara dan group lainnya.  Waluaupun Indonesia masuk dalam group besar,  Group 77 dan China, namun Indonesia tidak mesti harus sama dengan pandangan dari group bila menyangkut hal2 yang strategis untuk kepentingan Indonesia,  Kata Ibu Nur.  Akan tetapi semua posisi dari negara dan group lain perlu juga kita pelajari untuk memperkirakan akan seperti apa susahnya dalam menarik keseimpulan dan membuat draft Text untuk disampaikan kepada COP mendatang.  Target kita adalah kepentingan Indonesia masuk dalam Keputusan COP,  sehingga tidak boleh cepat puas bila saja kepentingan Indonesia masuk di SBSTA,  SBI atau APA karena hasil akhirnya adalah COP decision,  lanjut Ibu Nur.  

Tags: Liputan COP22 Marakesh

membagi informasi ini: