Dua Kerangka Dokumen Special Reports diputuskan pada Pertemuan Ke-45 IPCC

Pada tanggal 28-31 Maret 2017, di Guadalajara Meksiko telah dilaksanakan Pertemuan ke-45 Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Pertemuan tersebut dihadiri oleh sekitar 320 orang dari 100 negara. Dari Indonesia, peserta yang hadir yaitu Dr. Tri Handoko Seto, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Prof. Dr. Edvin Aldrian, M.Sc., Peneliti Senior, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Prof. Edvin Aldrian merupakan vice chair of Working Group I IPCC yang membidangi Basis Ilmiah. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Direktorat Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional sebagai kepanjangan tangan Pumpunan Nasional IPCC (IPCC National Focal Point) di Indonesia menyelenggarakan sosialisasi hasil pertemuan IPCC ke-45.

Agenda Pertemuan IPCC ke-45  adalah pembahasan kerangka the Special Report on climate change, desertification, land degradation, sustainable land management, food security, and greenhouse gas fluxes in terrestrial ecosystems (SRCCL) dan the Special Report on climate change, oceans and the cryosphere (SROCC). Selain itu dibahas pula mengenai program dan anggaran IPCC untuk tahun 2017-2020; Beasiswa IPCC; dan beberapa laporan kegiatan IPCC lainnya antara lain The Sixth Assessment Report (AR6), jejak karbon yang dihasilkan dalam kegiatan IPCC, dan rencana ke depan dari the Task Group on Data and Scenario Support for Impact and Climate Analysis (TGICA).

IPCC berupaya untuk mengurangi karbon yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan IPCC dengan mendorong penggunaan teleconference dan efisiensi penggunaan tiket. IPCC juga mendorong penghitungan emisi yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan IPCC.

Pertemuan ke-45 membahas tentang kerangka SRCCL yang merupakan hasil keputusan dari Pertemuan ke-43 dan scooping meeting terkait laporan ini telah dilaksanakan pada November 2016. Diputuskan bahwa laporan khusus ini tersusun sampai dengan 330 halaman yang terdiri dari pembuka, dua jenis ringkasan, tujuh bab, dan beberapa halaman tambahan terkait dengan studi kasus dan pertanyaan yang sering diajukan (FAQ). Seperti yang disampaikan oleh IPCC Vice-Chair Youba Sokona, laporan khusus ini akan membahas secara detail penggurunan, degradasi lahan, dan juga menilai pilihan-pilihan respon yang akan digunakan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan penanganan yang efektif untuk perubahan iklim. Isu yang sangat lekat dengan masalaha nasional Indonesia dalam laporan khusus ini adalah degradasi lahan dan juga keamanan pangan tanpa mengesampingkan isu-isu lainnya. IPCC Chair Lee Hoe Sung menegaskan bahwa hal-hal yang tidak dapat tertampung dalam laporan khusus ini akan dikomodir dalam AR6. SRCCL direncanakan selesai pada September 2019.

Selain itu,panel pertemuan juga memutuskan bahwa laporan khusus yang berkaitan dengan oseanografi dan kriosfer direncanakan selesai pada September 2019. Sebelumnya telah dilaksanakan scooping meeting pada Desember 2016 dan Februari 2017. Laporan khusus tersebut disepakati diberi judul the Special Report on climate change, oceans and the cryosphere disiingkat SROCC. Cryosphere berasal dari kata dalam Bahasa Yunani kryos yang artinya dingin atau salju. Cryosphere merupakan kosakata untuk menggambarkan wilayah di muka bumi di mana air ditemukan dalam bentuk padat. Area ini mencakup lapisan es, sungai dan danau yang membeku, daerah yang tertutup salju, gleyser, dan tanah yang membeku. Laporan khusus ini diharapkan dapat berguna untuk mengetahui bagaimana perubahan iklim berpengaruh terhadap laut dan kriosfer.

Laporan khusus ini terdiri dari kurang lebih 292 halaman tersusun atas enam bab yang menjadi pokok bahasan dan halaman-halaman tambahan dengan konsep yang sama dengan SRCCL. Pokok bahasan dalam laporan khusus ini mencakup daerah pegunungan tinggi, wilayah kutub, peningkatan muka laut dan dampaknya pada pulau pulau kecil, pantai, dan masyarakat, serta perubahan laut, ekosistem laut, dan komunitas yang bergantung kepada kelautan.

Menanggapi kerangka SROCC, peserta sosialisasi menekankan bahwa isu terhadap pulau kecil tidak hanya berkaitan dengan kenaikan permukaan laut saja, namun juga dampak ekologis seperti pemutihan karang yang berdampak pada kelimpahan sumberdaya kelautan Indonesia. Dalam sosialisasi ini juga ditekankan bahwa Indonesia perlu menempatkan sebanyak mungkin ahlinya dalam kegiatan IPCC. Selain itu, data dan hasil penelitian terkait Indonesia perlu lebih diangkat lagi agar dapat diacu oleh IPCC. Dalam waktu dekat, pengusulan ahli untuk bergabung dalam penulisan SROCC segera dibuka, para ahli perubahan iklim dan kelautan Indonesia diharapkan dapat mendaftar melalui Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Pumpunan Nasional untuk IPCC.[]

Sumber Rujukan :

Tags: Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

membagi informasi ini: