• Beranda
  • Berita
  • Menggali Praktik-praktik Pengelolaan ekosistem dalam rangka Penguatan Adaptasi Berbasis Ekosistem.

Menggali Praktik-praktik Pengelolaan ekosistem dalam rangka Penguatan Adaptasi Berbasis Ekosistem.

 

Menggali Praktik-praktik Pengelolaan ekosistem dalam rangka Penguatan Adaptasi Berbasis Ekosistem.

Indonesia di benua Asia bersama Brazil di benua Amerika dan Kongo di benua Afrika dikenal sebagai negara “megabiodiversity country”,  negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati mulai dari genetic,  species dan ekosistem sangat tinggi di dunia.  Ekosistem di Indonesia sangat beragam, namun karena pemanasan global,  fungsi penyangga kehidupan mulai terganggu disebabkan oleh iklim mikro yang berubah karena pemanasan global.  Masa pohon berbuah (phenology) tidak beraturan mengganggu suksesi hutan serta ketersediaan pakan bagi satwa liar penghuni hutan.  Demikian juga halnya dengan ekosistem karang yang akibat naiknya suhu laut menyebabkan pemutihan karang “coral bleaching” , mati dan tak mampu lagi menjadi rumah bagi ikan dan satwa laut lainnya.  Ekosistem yang sehat akan membantu masyarakat di sekitar dalam mengantisipasi dampak perubaha iklim. Oleh sebab itu, menjamin integrity ekosistem agar dapat menyediakan jasa layanan ekosistem sangat penting dalam perubahan iklim. Upaya adaptasi perubahan iklim berbasis ekosistem (Ecosystem based Adaptation) merupakan salah satu alternative opsi adaptasi.

Nuraeni Tahir, SHut. MES, Kasubdit Adaptasi Ekologi Alami alam menyatakan sebagai output konkrit tahun 2017, Subdit Adaptasi Ekologi Alami akan melakukan identifikasi praktik-praktik pengelolaan ekosistem dan potensi adaptasi berbasis ekosistem di Indonesia.  Ibu Eni  mengatakan  banyak  pengelolaan ekosistem yang dapat didorong sebagai opsi adaptasi berbasis ekosistem. Namun demikian, masih banyak elemen yang masih kurang terutama data dan informasi iklim dan trend perubahan iklim ke depan dalam menyusun rencana/program untuk memastikan pengelolaan ekosistem tersebut agar dapat megantisipasi dampak perubahan iklim ke depan.  Seperti yang dinyatakan oleh Dra Sri Tantri, MSc, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim bahwa hal ini yang diarusutamakan dalam pengelolaan ekosistem di Indonesia untuk menjamin ekosistem  yang tangguh iklim untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang tangguh iklim.

Dr. Nur Masripatin, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim menekankan bahwa sebagai negara “archipelago” kita ini kaya akan kehidupan hayati di laut dan di darat. Bicara tentang pengelolaan ekosistem dan adaptasi PI berbasis ekosistem harus bicara “from ridge to reef”.  Tidak hanya di Indonesia, ditingkat global pun adaptasi belum semaju mitigasi.  Yang kita lakukan dengan kegiatan ini adalah mengidentifikasi praktik-praktik pengelolaan ekosistem di Indonesia yang mungkin tidak didisain sebagai  kegiatan adaptasi, tetapi sebenarnya sudah merupakan bagian dari aksi adaptasi.  Dari sinilah kita tahu status adaptasi di area ini dan memberikan gambaran kemana intervensi-intervensi terkait adaptasi perlu diarahkan,  lanjut Ibu Nur.

Topik ini mengundang perhatian para peserta diskusi  pada  Rapat Internal Ditjen PPI membahas Workplan dan Timeline Eselon III yang dipimpin oleh Dr.  Nur Masripatin selaku Dirjen Pengendalian Perubahan iklim pada Tanggal 27 January 2017 di Rimbawan III, Blok 5 Gedung Manggala Wanabakti.  Kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat eselon 2 dan 3 di lingkup PPI termasuk lima kepala balai PPI.  Dr. Joko Prihatno, MM,  Direktur Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring,  Pelaporan dan Verifikasi (IGRK-MVP) yang meniti karir 20 tahun di lapangan menyarankan agar mengumpulkan data dan informasi mulai dari lingkungan KLHK karena di KSDAE telah memproduksi banyak dokumentasi kegiatan konservasi kawasan dan ekpsistem bersama mita-mitranya.  Dokumen resmi negara juga telah tersedia di beberapa tempat termasuk informasi yang terangkum dalam persiapan Delegasi RI mengikuti Convention on Biodiversity setiap tahun. 

Tags: Sekretariat Direktorat Jendral

membagi informasi ini: