• Beranda
  • Berita
  • Lokakarya Nasional Teknologi Rendah Karbon : Kebutuhan Teknologi Rendah Karbon dalam rangka Pemenuhan Paris Agreement

Lokakarya Nasional Teknologi Rendah Karbon : Kebutuhan Teknologi Rendah Karbon dalam rangka Pemenuhan Paris Agreement

Lokakarya Nasional Teknologi Rendah Karbon :  Kebutuhan Teknologi Rendah Karbon dalam rangka Pemenuhan Paris Agreement

Pada 25 November 2016, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim mengadakan Lokakarya Nasional Teknologi Rendah Karbon dengan tema “Kebutuhan Teknologi Rendah Karbon dalam rangka Pemenuhan Paris Agreement”. Lokakarya dilaksanakan di Hotel Atlet Century Park Jakarta dan diikuti oleh 117 orang peserta yang berasal dari Pemerintah Pusat, pemerintah daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, perguruan Tinggi, asosiasi usaha, LSM, serta organisasi internasional.

Dalam arahan Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, Dr. Ir. Nur Masripatin M.For.Sc., yang dibacakan oleh Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional, disampaikan bahwa sebagai negara sedang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, Indonesia merupakan kontributor emisi gas rumah kaca yang cukup besar. Emisi berbasis lahan dari deforestasi dan kerusakan lahan merupakan penyebab emisi terbesar di Indonesia. Pada saat yang sama, masih rendahnya efisiensi dan intensitas pemanfaatan energi serta masih berlanjutnya ketergantungan pada energi fosil menyebabkan emisi sektor energi tetap tinggi, bahkan meningkat. Mengingat kondisi tersebut, sudah saatnya isu perubahan iklim menjadi prioritas dan pertimbangan utama dalam pembangunan.

Dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang merupakan janji Indonesia untuk turut berkontribusi menurunkan emisi global, dijabarkan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah karbon dan tahan terhadap dampak perubahan iklim. Dijabarkan pula target penurunan emisi serta kondisi dan strategi yang diperlukan untuk mencapai target tersebut. Target yang ditetapkan dapat dicapai melalui peningkatan kapasitas, peningkatan pelayanan dasar, inovasi teknologi, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan sejalan dengan prinsip-prinsip good governance. Sains, inovasi dan teknologi merupakan dasar dan solusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menurunkan emisi gas rumah kaca, yang mencakup semua sektor dalam NDC. Untuk itu, diperlukan kajian mengenai kebutuhan teknologi dalam rangka pemenuhan NDC. Ketersediaan teknologi yang tepat dan sesuai sangat penting untuk mengurangi emisi.

Indonesia saat ini masih merupakan pengguna teknologi, belum sebagai produsen. Semua komponen masih harus diimpor dari luar negeri. Indonesia ketinggalan jauh dari negara lain yang dapat memproduksi komponen yang dibutuhkan dengan harga yang murah, karena economies of scale. Sebagai pengguna teknologi, Indonesia terpaksa membeli dengan harga lebih mahal dibandingkan dengan produsen. Masih terdapat sejumlah penghambat di Indonesia dalam pengembangan teknologi, antara lain hambatan kebijakan dan kapasitas sumber daya manusia. Untuk itu, diperlukan kajian kebijakan serta faktor penghambat dan upaya peningkatan kapasitas yang diperlukan, agar bisa segera menyusul negara lain dalam pengembangan teknologi.

Dalam kerangka UNFCCC negara maju diwajibkan membantu negara sedang berkembang (termasuk Indonesia) dalam alih teknologi dan pengembangan teknologi. Indonesia harus pro-aktif dalam memanfaatkan semua kesempatan yang ditawarkan, agar mampu bersaing dengan negara lain. COP 22 Marrakesh memberikan penekanan yang besar terhadap alih teknologi dan pengembangan teknologi bagi negara berkembang, serta pendanaannya. Diperlukan dukungan dan peran aktif semua konstituen, agar apa yang menjadi kebutuhan dan peluang dalam teknologi rendah karbon dapat dicapai, dan aksi-aksi mitigasi dan adaptasi di Indonesia dapat dilaksanakan.

pembicarasesi2lokatekno

Lokakarya dilaksanakan dalam 2 sesi. Sesi I merupakan sesi pleno mengenai kebijakan yang menampilkan 4 (empat) pembicara, yaitu kebijakan internasional pengendalian perubahan iklim terkait teknologi oleh Direktur Mobilisasi S2R; komitmen Indonesia (NDC) oleh Direktur Mitigasi; penerapan teknologi sektor energi oleh Kasubdit Penerapan Teknologi Konservasi Teknologi  Kementerian ESDM; dan penerapan teknologi lingkungan oleh Pusat Teknik Lingkungan BPPT. Sedangkan Sesi II Sesi II merupakan sesi panel, yang menampilkan topik-topik penerapan teknologi rendah karbon pada sektor energi, ketenagalistrikan, perumahan dan limbah. 5 (lima) topik dan pembicara pada Sesi II adalah sebagai berikut: pemenuhan kebutuhan listrik terkait perubahan iklim oleh Kasubdit Perlindungan Lingkungan Ketenaglistrikan Kementerian ESDM; menuju penerapan Smart Grid di Indonesia oleh Fabby Tumiwa, IESR; penerapan teknologi rendah karbon pada bangunan oleh Prasetyoadi, Green Building Council (GBC); teknologi LFG (landfill gas) oleh Djoko Heru Martono, InSWA; dan pengelolaan limbah sawit oleh Kasubdit Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik, Ditjen PPKL KLHK. Terdapat pula 2 (dua) pembahas pada Sesi II, yaitu Dr. Ucok Siagian (ITB) dan Dr. Widitmini Sih Winanti (BPPT).

Secara keseluruhan, lokakarya ini cukup dapat memberikan gambaran mengenai luasnya lingkup dan kebutuhan teknologi rendah karbon, serta status/kondisi perkembangannya di Indonesia saat ini. Diperlukan pembahasan yang berkelanjutan mengenai kebutuhan teknologi, gap yang masih terjadi, dan strategi yang diperlukan untuk alih dan pengembangan teknologi rendah karbon di Indonesia.

Pada penutupannya, Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional menyampaikan dua hal pokok sebagai berikut:

  1. Perkembangan teknologi sangat pesat. Arah perkembangan kadangkala tidak sejalan dengan kemampuan dan kondisi Indonesia. Namun, kita tidak dapat membendung perkembangan yang terjadi. Meskipun demikian, kita harus menyelaraskan perkembangan yang terjadi di luar dengan kebutuhan kita, mengambil manfaat dan peluang, serta meningkatkan kemampuan kita.
  1. Kita harus senantiasa melakukan “reinventing” dan “re-engineering” teknologi, agar dapat meningkatkan kemampuan teknologi kita dibandingkan dengan negara-negara lainnya.[]

Tags: Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

membagi informasi ini: