Peningkatan Pemahaman Perubahan Iklim untuk Wartawan di Wilayah Ambon

 

Pada 27 – 28 september 2016, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) menyelenggarakan Lokakarya Wartawan dengan tema “Meliput Perubahan Iklim” yang dilaksanakan di Hotel Swiss-Belhotel Ambon.  Lokakarya ini bertujuan untuk melatih para wartawan agar bersedia dan mampu meliput serta melaporkan isu-isu perubahan iklim, khususnya dalam kaitannya dengan kerusakan hutan dan program REDD+ di wilayah Maluku.

Lokakarya ini diikuti oleh sekitar 30 (tiga puluh)orang yang terdiri dari wartawan dari media cetak dan elektronik di tingkat lokal,antara lain : tabloid Berita Kota, Radio N25, ANTARA, RRI, Mimbar Rakyat, Suara Maluku, Berita Maluku Online, Kabar Timur, Kompas Online, Tribun Maluku, Ekspresi Maluku Online, I-NewsTVMaluku, Metro Maluku, dan Spektrum Maluku.

Sebagai narasumber utama adalah (1) Ir. Achmad Gunawan, MAS (Direktur Mobilisasi Sumber Daya Sektoral dan Regional - MS2R, KLHK), (2) Novanda Risakotta, S.Pt. (BLH Kota Ambon), dan (3) Ir. Marthin F. Haullussy, MS.Eng. (Direktur Yayasan Pengembangan Alam Raya dan Masyarakat Niaga – ARMAN).

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif LPDS, Priyambodo RH, menyampaikan bahwa daya tarik media terhadap isu lingkungan termasuk perubahan iklim belum terlalu tinggi. Hal ini dibuktikan dengan media yang mempunyai kanal khusus terkait isu lingkungan tidak terlalu banyak, namun wartawan secara umum sudah cukup akrab dengan isu perubahan iklim. Selanjutnya disampaikan pula bahwa lokakarya perubahan iklim yang diselenggarakan oleh LPDS ini sudah yang ke-22 kali sejak pertama kali dilaksanakan pada 2012. 

Dalam paparan, Direktur MS2R menyampaikan beberapa hal terkait pemahaman dasar perubahan iklim dan dampaknya di Indonesia, aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta implementasinya di Indonesia. Selain itu, disampaikan pula hal-hal terkait perundingan perubahan iklim di tingkat global, hasil-hasil COP21, poin-poin penting Perjanjian Paris, persiapan ratifikasi Perjanjian Paris oleh Indonesia, dan Nationally Determined Contributions (NDC).

Sebagai perwakilan pemerintah daerah, Novanda Risakotta dari BLH Ambon, menyampaikan perkembangan kegiatan pemerintah kota yang mendukung isu lingkungan dan perubahan iklim, yaitu pembuatan sumur resapan, pembangunan taman hijau, rehabilitasi sumber mata air, pembuatan lingkungan hijau, konservasi sumber daya air dan pengendalian kerusakan sumber air, pantai laut lestari, penanaman pohon di areal kritis, pembuatan sumur biopori, pengendalian dampak perubahan iklim, dan rehabilitasi sumber daya air. Lebih lanjut disampaikan bahwa sampai dengan saat ini Kota Ambon masih memiliki permasalahan lingkungan yang perlu menjadi perhatian, yaitu : sampah, banjir, krisis air bersih, pencemaran sungai, dan masalah pesisir.

Yang menarik adalah paparan yang disampaikan oleh Ir. Marthin F. Haullussy, MS.Eng. dari ARMAN yang mengangkat isu-isu lokal permasalahan lingkungan.  Saat ini dirasa pertambahan penduduk di Kota Ambon sulit dikendalikan, hal ini akan menekan lingkungan sehingga meningkatkan potensi kerusakan lingkungan. Namun di sisi lain terdapat kearifan lokal masyarakat, yaitu SASI dan KEWANG, yang sangat bermanfaat dalam menjaga lingkungan, oleh karena itu budaya ini harus terus dipertahankan. Marthin mengharapkan agar program yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun pihak lain selalu melibatkan masyarakat sebagai subjek kegiatan, bukan hanya sebagai objek, dan menyentuh akar permasalahan di masyarakat serta peraturan yang dibuat oleh pemerintah hendaknya selalu mendukung masyarakat adat Maluku agar lebih efektif, karena sebagian besar masyarakat di Maluku masih memegang teguh peraturan adat di masing-masing wilayah.  Sedangkan terkait keterlibatan kaum perempuan masyarakat adat/lokal di Maluku, sejak dahulu kala telah memiliki peran yang sama dengan kaum lelaki.  Tidak hanya dalam menghadapi perubahan iklim, kaum perempuan berperan dalam mengelola, menjaga dan merawat kelestarian lingkungan dan kekayaan potensi sumber daya alam, terutama dalam lahan perkebunan (cengkeh, pala, buah-buahan lokal).

Dalam rangkaian kegiatan ini, peserta tidak hanya dibekali dengan pengetahuan perubahan iklim, namun juga dibekali cara penulisan efektif perubahan iklim oleh pengajar dari LPDS, yaitu : Sdr. Nabiha Shihab, Warief Djajanto Basorie, dan Priyambodo RH. Setelah dibekali dengan pengetahuan umum perubahan iklim dan cara penulisan efektif, pada hari ke-2 para peserta diminta untuk membuat dan mempresentasikan tulisan terkait perubahan iklim.

***

Tags: Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

membagi informasi ini: