REDD+ Indonesia Day Moving REDD+ Indonesia Forward : Resolving Challenges

 

 

“REDD+ Indonesia Day”

 Moving REDD+ Indonesia Forward : Resolving Challenges

 Optimisme Implementasi Penuh REDD+ Indonesia

 Melalui Keterlibatan Bersama dan Peran Aktif Multistakeholder

 

 

Kegiatan “REDD+ Indonesia Day”, dengan tema Moving REDD+ Indonesia Forward : Resolving Challenges” telah diselenggarakan dalam bentuk Seminar Nasional (Jumat, 29 April 2016) dan Pameran Bersama (Kamis-Jumat, 28-29 April 2016), di Gd. Manggala Wanabakti, Jakarta. Event ini merupakan tonggak baru dalam perjalanan sejarah REDD+ di Indonesia sejak pertama kali masuk dalam agenda COP (COP-11 di Montreal tahun 2005) dengan nama Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (RED) dan berkembang menjadi REDD+ pada COP-13 di Bali tahun 2007.

 Seminar Nasional diikuti oleh kurang lebih 290 (dua ratus sembilan  puluh) orang peserta, yang merupakan perwakilan berbagai stakeholder (pemerintah pusat, pemerintah daerah/11 provinsi percontohan, kelompok Kerja/Komda REDD+ di daerah, mitra internasional, perguruan tinggi dan lembaga penelitian, serta pemerhati dan pelaku kegiatan REDD+ di lapangan).Peserta cukup antusias sehingga sampai sesi sore hari jumlah peserta yang tinggal masih di atas 80%. Antusiasme pengunjung pameran bersama yang mengusung 7 (tujuh) tema yang merupakan aspek implementasi REDD+ yang terdiri atas aspek kebijakan; aspek pendanaan; aspek safeguards dan SIS REDD+; aspek metodologi; aspek inisiatif lokal terkait REDD+; pilot province pelaku REDD+ dan Demonstration Activities (DA) REDD+ juga menunjukkan keingintahuan tentang status REDD+ di Indonesia. Booth aspek kebijakan merupakan tema dengan jumlah pengunjung terbanyak dibandingkan dengan tema yang lain yaitu sebanyak 84 (delapan puluh empat) orang. Dalam pameran juga disampaikan informasi mengenai “Sejarah REDD+ Indonesia  2006 -2016” dalam bentuk poster utama, untuk memberikan pemahaman bersama bagi para stakeholders REDD+ Indonesia.

 Sesuai dengan arahan Ibu Menteri yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, ditegaskan bahwa REDD+ Indonesia Day ini  penting untuk dapat menyampaikan update kepada pakar, pemerhati dan para pemangku kepentingan tentang perkembangan negosiasi internasional terutama implikasi Paris Agreement terhadap implementasi REDD+ pasca 2020, progres di Indonesia dan juga untuk berkoordinasi dan mendiskusikan isu-isu penting dalam rangka implementasi REDD+. Untuk itu sangatlah relevan bila event ini mengambil tema MOVING REDD+ INDONESIA FORWARD : RESOLVING CHALLENGES.  Secara lebih luas, Ibu Menteri menekankan bahwa perubahan iklim merupakan isu global yang harus ditangani bersama-sama oleh masyarakat global dan memerlukan keterlibatan seluruh stakeholder dalam upaya mitigasi dan adaptasinya. Di tingkat internasional,  telah diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi penanda-tanganan Perjanjian Paris (Paris Agreement) di New York. Sebanyak 175 negara terwakili dalam penanda-tanganan tersebut atau sekitar 90 % dari keseluruhan jumlah negara yang mengadopsi Paris Agreement di COP-21 Desember 2015. Hal ini menunjukkan pentingnya perjanjian tersebut untuk menjaga kenaikan suhu bumi tidak melebihi 2°C dibandingkan pada era pra-industrialisasi. Hal ini sejalan dengan mandat UUD 1945 untuk menyediakan lingkungan yang baik untuk warga negara dan juga dalam rangka menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhan pembangunan serta peningkatan kesejahteraan rakyat dengan keharusan menjaga lingkungan hidup.

 Setelah pembukaan, acara Seminar Nasional dilanjutkan dengan sesi panel yang menyampaikan paparan progres penyiapan arsitektur REDD+ Indonesia (Strategi Nasional REDD+, FREL Nasional dan MRV-REDD+, SIS-REDD+, serta instrumen pendanaan). Pada Sesi Paralel didiskusikan mengenai progres REDD+ Indonesia pada masa transisi dan di provinsi, dukungan ilmiah untuk REDD+, serta inisiatif terkait REDD+ lainnya.Dalam diskusi juga diperoleh masukan dari para stakeholders untuk langkah-langkah lebih lanjutmengenai beberapa hal yang perlu disiapkan oleh pemerintah,  diantaranya: a) Penyiapan mekanisme untuk merekognisi semua inisiatif dari sektor swasta, NGO dan masyarakat melalui sistem registrasi nasional (SRN), termasuk rekognisi terhadap metodologi yang digunakan oleh masyarakat lokal dalam Sistem MRV untuk implementasi REDD+; untuk ini sudah masuk sebagai bagian dari pembangunan Sistem Registri yang masih berlangsung oleh Ditjen PPI dan b)penyiapan mekanisme pendanaan dan pemberian insentif pada inisiatif REDD+ oleh swasta, NGO dan masyarakat. 

Para peserta diskusi juga menyampaikan pentingnya untuk mengatur langkah selanjutnya dan ‘resolving challenges’, mengingat masih adanya beberapa ‘pekerjaan rumah’ yang harus diselesaikan yang melalui keterlibatan dan peran aktif seluruh stakeholder dalam rangka implementasi REDD+ secara penuh di Indonesia. Beberapa hal yang perlu diselesaikan di tingkat pusat diantaranya adalah instrumen pendanaan untuk REDD+, serta positioning REDD+ dalam NDC dalam rangka merespon implikasi Paris Agreement terhadap REDD+. Di tingkat sub nasional, yang perlu dilakukan segera adalah pembangunan FREL sub nasional, sebagai basis dari penentuan emisi di tingkat sub nasional setelah seluruh proses Technical Assesment terhadap FREL Indonesia yang sudah di submit selesai. Adapun untuk hal-hal lainnya terkait arsitektur REDD+ akan dilanjutkan secara paralel dengan proses penyelesaian ‘pekerjaan rumah’ dengan dukungan dan peran aktif seluruh pihak secara bersama-sama dalam rangka implementasi REDD+ yang memberikan manfaat sebesar-sebesarnya bagi Indonesia sekaligus kontribusi penurunan emisi di tingkat internasional.

 

 

 

 

 

 

Tags: Mitigasi Perubahan Iklim

membagi informasi ini: