MPA MENGELOLA PERTANIAN SEHAT DI PENYANGGA TN GUNUNG CIREMAI

 

 

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus meningkatkan peran masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk mendorong upaya perlindungan kawasan konservasi khususnya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti halnya pada MPA di Taman Nasional Gunung Ciremai Jawa Barat.

 

Salah satunya adalah MPA Macan Tutul di Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kelompok  yang dibentuk pada tahun 2018 dengan jumlah anggota 20 orang ini adalah binaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

 

Ditemui di gubuk kerjanya (17/11/2022), Paryono, Ketua MPA Macan Tutul menceritakan bahwa pada awal pembentukan TNGC, dia bersama para petugas secara telaten memberikan pemahaman kepada warga akan pentingnya menjaga keberadaan hutan di TNGC untuk menunjang kehidupan mereka seperti menjaga ketersediaan air. Penyuluhan kepada masyarakat dilakukan melalui rumah ke rumah ataupun pada acara-acara umum di desanya.

 

Laki-laki berusia kepala enam yang biasa dipanggil Yono ini mengaku dulunya adalah seorang pengarap lahan di kawasan hutan Gunung Ciremai, saat kawasan itu masih dikelola oleh Perum Perhutani. Dia juga mengaku pernah menjadi pemburu satwa, maka tak heran dia sangat hapal seluk beluk hutan yang berada di wilayah Majalengka dan Kuningan itu. 

 

“Kalau sekarang masyarakat Desa Cikaracak sudah sangat menyadari pentingnya fungsi hutan Gunung Ciremai, kami tidak lagi menggarap lahan di dalam kawasan hutan. Jika hutan rusak termasuk akibat kebakaran maka masyarakat setempat juga yang akan merasakan langsung dampaknya,” tutur Yono.

 

Melalui kelembagaan MPA dan Kelompok Tani Hutan (KTH), Yono beserta anggotanya melakukan berbagai upaya pencegahan karhutla, seperti penyuluhan, patroli, membuat sekat bakar, dan pengembangan ekonomi  masyarakat melalui wisata alam dan pertanian.

 

Di kawasan hutan Gunung Ciremai yang berada di Desa Cikaracak dikembangkan wisata alam terpadu bersama pertanian sehat yang berada di wilayah penyangganya yang dikenal sebagai kawasan Agripark. Pola pertanian yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan bakteri untuk meningkatkan produktivitas tanaman tanpa pupuk kimia dan pestisida. 

 

Pengembangan praktik yang dimulai tahun 2017 ini dilakukan bersama Balai TN Gunung Ciremai dengan IPB University. “Pada tahun 2022 ini kelompok kami di bawah binaan SPTN Wilayah II Majalengka Balai TN Gunung Ciremai sedang mengelola demplot pertanian sehat seluas dua ribu meter persegi yang ditanami tanaman utama cabai dan sawi putih,” ungkap Yono.

 

Yono mengakui akan manfaat menerapkan pola pertanian sehat, selain produk pertanian yang berkualitas bebas bahan kimia juga dapat menghemat biaya atau modal penanaman. Selain itu dia berkeyakinan bahwa hutan yang terjaga kelestariannya akan sangat menunjang keberlangsungan usaha pertanian masyarakat yang berada di sekitarnya. 

 

Aksi kelompok MPA Macan Tutul ini bisa memberikan contoh positif bagaimana peran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dan meningkatkan perekonomian yang selaras dengan kelestarian lingkungan sekitar. Dengan mengelola obyek daya tarik wisata alam sekaligus menghasilkan produk pertanian sehat yang bermanfaat.

 

 

 

Tags: Pengendalian Kebakaran Hutan

membagi informasi ini: