Menjaga Harmoni dengan Alam melalui Aksi Iklim Pasca Pandemi

 

Menjaga Harmoni dengan Alam melalui Aksi Iklim Pasca Pandemi

 

C:UsersikhwaDownloadsWhatsApp Image 2022-10-30 at 10.36.37.jpeg

 

Mahasiswa pecinta alam yang tergabung dalam FEPALA Universitas Diponegoro menyelenggarakan webinar secara virtual dengan tema Living Sustainably in Harmony with Nature pada Minggu, 30 Oktober 2022. Webinar yang diikuti oleh sekitar 150-an peserta yang didominasi dari kalangan mahasiswa, pelajar hingga umum ini muncul sebagai salah satu bentuk keresahan dari FEPALA UNDIP melihat fenomena lingkungan sekitarnya. Tidak dapat dimungkiri Pandemi Covid-19 saat ini telah menunjukkan grafik melandai yang diikuti dengan mulai meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang publik, maka secara tidak langsung juga akan meningkatkan kembali emisi yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. Kondisi ini tentunya akan berdampak terhadap alam dan perubahan iklim yang telah terjadi saat ini. Untuk menjawab keresahan tersebut, webinar ini menghadirkan 2 narasumber dari Balai PPIKHL JabalNusa, yaitu Kepala Balai PPI JabalNusa, Haryo Pambudi dan Kepala Seksi Perubahan Iklim Balai PPI JabalNusa, Pujo Nur Cahyo, serta dimoderatori oleh Fahrizal (Mahasiswa FE UNDIP). 

Pada sesi pertama, Haryo menyampaikan bahwa perubahan iklim merupakan tema yang berbasis ilmiah dimana peran akademisi sangat penting dalam penguatan basis data dan kajian ilmiah terkait isu perubahan iklim. Contohnya dalam kajian dari sudut pandang makro ekonomi, perubahan iklim berpotensi memberikan dampak pada hilangnya PDB Nasional sebesar 2,87% pada bidang pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat akan air, pangan, energi dan kesehatan. Sebagai langkah nyata upaya pengendalian perubahan iklim, Pemerintah telah berkomitmen dengan meratifikasi Perjanjian Paris dan menyampaikan target penurunan emisi nasional pada dokumen NDC (Nationally Determined Contribution) yang dicapai melalui implementasi program dan kebijakan kunci pada 5 sektor (energi, IPPU, FOLU, pertanian dan limbah).

Pada kesempatan ini, Haryo menekankan bahwa sektor kehutanan sebagai representasi dari alam memegang peran penting dalam pencapaian target penurunan emisi nasional dengan kontribusi sebesar 17,2% pada skema CM1. Dengan ini, menjaga luasan hutan alam yang tersisa dari ancaman deforestasi dan degradasi menjadi salah satu tema prioritas bagi pemerintah saat ini. Pada tema adaptasi, pemerintah juga telah menyusun peta jalan dengan tiga bidang sasaran utama yaitu ketahanan ekonomi, sosial dan mata pencaharian, serta ekosistem dan lanskap. “Melalui basis perencanaan yang mempertimbangkan aspek kerentaan, keterpaparan, dan bahaya iklim diharapkan dapat teridentifikasi berapa kebutuhan pendanaan, peningkatan kapasitas dan transfer teknologi yang diperlukan pada setiap aspek baik itu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim”, ujarnya mengakhiri paparan sesi pertama.

Pada sesi kedua, Pujo menyampaikan mengenai kontribusi dan peran apa saja yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari unsur non party stakeholders dalam upaya pengendalian perubahan iklim. Pujo mencontohkan bagaimana kegiatan adaptasi, mitigasi, dan dukungan keberlanjutan dalam ProKlim (Program Kampung Iklim) sebagai salah satu bentuk upaya pengendalian perubahan iklim di tingkat tapak. Pemerintah juga terus mendorong percepatan replikasi ProKlim dengan menetapkan target 20.000 kampung iklim sampai tahun 2024. Dalam rangka mendukung pencapaian target ini, Balai PPIKHL JabalNusa mengenalkan tagline “ProKlim 4 Langkah” dan menyerukan pentingnya kontribusi dari berbagai pihak terutama akademisi dan mahasiswa untuk dapat membantu dalam pendampingan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam implementasi kegiatan adaptasi dan mitigasi dalam ProKlim.

Animo yang tinggi terhadap materi yang disampaikan oleh kedua narasumber membuat sesi tanya jawab berjalan dengan menarik. Peserta banyak melontarkan pertanyaan seputar dampak perubahan iklim pada bidang ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, status deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia dan langkah serta kebijakan apa saja yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah dalam menahan laju perubahan iklim. Karena keterbatasan waktu, moderator harus membatasi jumlah pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Pada akhir sesi, acara ditutup dengan foto bersama antara narasumber, moderator, panitia, dan peserta yang hadir pada acara webinar.

Kehumasan BPPIKHL JabalNusa

Aan Ridho FH

\

 

Tags: Sekretariat Direktorat Jendral

membagi informasi ini: