• Beranda
  • Berita
  • WARUNG ILMIAH LAPANGAN PROKLIM: MEMBANGUN LITERASI IKLIM PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK MEMBANGUN KESIAPAN MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

WARUNG ILMIAH LAPANGAN PROKLIM: MEMBANGUN LITERASI IKLIM PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK MEMBANGUN KESIAPAN MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

 

 

DITAPI- Sebagai salah satu upaya dalam membangun literasi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kesiapan menghadapi Perubahan Iklim, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian Kementan, Warung Ilmiah Lapangan Universitas Indonesia yang didukung oleh GIZ Clarity Project menyelenggarakan “Webinar Warung Ilmiah Lapangan ProKlim: Peran Edukasi Agrometeorologi dalam Meningkatkan Kemampuan Tanggap Petani pada Perubahan Iklim” pada tanggal 8 Juni 2022 secara daring yang dihadiri oleh 201 peserta. 

Webinar di buka oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Dra. Sri Tantri Arundhati, M.Sc., dan dilanjutkan dengan pemaparan oleh 5 Narasumber yaitu Dr. Ir. Ai Dariah (Peneliti Utama Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, Badan Litbang Pertanian, Kementan), Prof. Sue Walker (Agricultural Research Council, Africa), Prof. Yunita T. Winarto (Purnabakti, Universitas Indonesia), Nurkilah (Ketua Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim Kabupaten Indramayu), dan Nandang Heryana (Ketua Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim Kabupaten Sumedang). 

Perubahan iklim meningkatkan ancaman terhadap sumber daya alam secara signifikan, yang akan mempengaruhi produksi dan distribusi pangan, air dan energi. Pemanasan global memicu perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim atau anomali iklim seperti El-Nino dan La-Nina; penurunan atau peningkatan suhu secara ekstrim; serta perubahan pola curah hujan dan musim yang tidak menentu. 

Peningkatan variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi telah mengancam sektor pertanian. Sektor ini akan sangat sensitif terkena dampak perubahan iklim karena sektor pertanian bertumpu pada siklus air dan cuaca untuk menjaga produktivitasnya. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyatakan bahwa salah satu ancaman paling serius terhadap masa depan keberlanjutan ketahanan pangan adalah implikasi perubahan iklim. 

Sejak terjadinya perubahan iklim, peluang munculnya kejadian iklim ekstrem meningkat. Di sisi lain, manusia tidak dapat mengendalikan perilaku iklim. Oleh karena itu, secara teknis dan sosial ekonomi, tindakan yang layak ditempuh adalah memperkuat kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengembangkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sejak tahun 2012, untuk mendorong keterlibatan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. 

“Melalui penyelenggaraan ProKlim, Pemerintah memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilakukan yang dapat meningkatkan kesejahtaraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah”, pungkas Tantri. 

“Pentingnya upaya mewujudkan ketahanan iklim di tingkat tapak ini telah menjadi perhatian Presiden RI sehingga, dalam KTT Adaptasi Iklim atau Climate Adaptation Summit 2021, Presiden menargetkan terwujudnya 20.000 Kampung Iklim pada Tahun 2024.”, lanjut Tantri.

 

ProKlim: Gerakan Bersama Membangun Ketahanan Iklim dan Pola Hidup Rendah Emisi di Tingkat Tapak

Selain mencapai target kuantitas 20.000 lokasi ProKlim, penting juga untuk mencapai target kualitas lokasi ProKlim. Salah satu target kualitas yang ingin dicapai adalah peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai iklim dan perubahan iklim. Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai iklim dan perubahan iklim sangat diperlukan guna mengurangi risiko-risiko yang lebih buruk yang disebabkan oleh perubahan iklim. Diharapkan masyarakat di Lokasi ProKlim khususnya masyarakat petani mampu secara mandiri mengidentifikasi perubahan iklim yang dialami dan melakukan aksi yang diperlukan untuk mengurangi risiko dan mengatasi dampak perubahan iklim tersebut untuk mencapai ketahananan ekonomi khususnya pangan.

Webinar menghasilkan beberapa catatan penting antara lain agromoteorologi penting bagi petani. Beberapa manfaat agrometeorologi bagi petani yaitu mengetahui awal musim tanam yang sifatnya spesifik lokal dan penerbangan hama. Hal ini berkaitan dengan kecukupan air untuk menghindari gagal panen dan menekan biaya produksi.  Adapun penerapan agrometeorologi di lokasi ProKlim adalah sebagai salah satu dasar/acuan dalam melaksanakan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dipilih dengan menyesuaikan karakterisitik lokasi serta mencari solusi bersama. Perubahan iklim sangat dinamis dan sulit diprediksi, sehingga kerjasama antara Pemerintah, Ilmuwan, dan Petani penting dalam mengurangi risiko dan menanggulangi dampak perubahan iklim.

 

Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK

Pewarta : Nurul Fadlillah

 

Tags: Adaptasi Perubahan Iklim

membagi informasi ini: