Budidaya Madu Trigona, Solusi Penguatan Ekonomi Kelompok MPA di Taman Nasional Tambora

 

20210504bali0301

Bima , 30 April 2021

Keterlibatan masyarakat merupakan salah satu pilar penting dalam pengendalian karhutla. Salah satunya melalui peran Masyarakat Peduli Api (MPA). MPA di sekitar Kawasan hutan kerap membantu berbagai upaya pengendalian karhutla, seperti patroli terpadu bersama pemangku kawasan dan BPPIKHL JabalNusa, pembuatan sekat bakar, hingga sosialisasi kepada masyarakat lainnya untuk tidak melakukan pembakaran hutan. Berbagai upaya tersebut telah dilakukan dengan baik oleh MPA “Cincin Tambora” dan MPA “Donggo Tabe” di wilayah Taman Nasional Tambora.

Meskipun hanya bersifat mitra secara sukarela, kelompok MPA yang ada di wilayah Taman Nasional Tambora bekerja secara cepat dan tanggap. Adanya upaya komunikasi dan pembinaan yang baik dari Taman Nasional Tambora dan BPPIKHL JabalNusa membuat MPA terus bermitra untuk menjaga daerahnya dari bahaya kebakaran hutan dan lahan. Untuk meningkatkan ekonomi MPA yang telah berkontribusi untuk menjaga hutan, BPPIKHL JabalNusa memfasilitasi kegiatan budidaya lebah madu Trigona beserta bantuan lebah dan stup (tempat budidaya lebah).

Kegiatan ini dilaksanakan di Resort Piong Taman Nasional Tambora, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima pada 28 – 29 April 2021. Dalam sambutannya, Haryo Pambudi sebagai Kepala Balai PPIKHL JabalNusa menyatakan upaya fasilitasi kegiatan budidaya lebah madu kepada anggota MPA merupakan jawaban atas arahan presiden untuk mencari upaya solusi permanen pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan penguatan ekonomi kelompok MPA, kemitraan dan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah akan semakin erat hingga nantinya pengendalian kebakaran hutan dan lahan akan semakin baik. Sejalan dengan hal tersebut, Yunaidi (Kepala Balai Taman Nasional Tambora) mengatakan bahwa upaya-upaya penguatan ekonomi sangat dibutuhkan terlebih dalam keadaan pandemi covid-19 yang ikut mempengaruhi perekonomian masyarakat.

20210504bali0302

 

Narasumber dari kegiatan ini adalah Muzakkir sebagai praktisi budidaya madu dari KPH Ampang Riwo, Dinas LHK Provinsi NTB. Muzakkir yang telah melakukan budidaya lebah Apis Trigona sp. Beliau mengungkapkan budidaya lebah madu trigona sangat menguntungkan secara ekonomi. Harga 1 buah botol madu trigona 150 ml bisa mencapai Rp. 225.000 – Rp. 250.000 di pasaran. Waktu panen madu Trigona kurang lebih sekitar 6 bulan, atau bisa lebih cepat tergantung dari beberapa faktor, diantaranya ketersediaan pakan (nektar) dan air, keberadaan asap dan pestisida di sekitar lokasi. Untuk menjamin ketersediaan pakan, muzakkir menyarankan untuk menanam beberapa tanaman penghasil nektar dan polen di sekitar lokasi budidaya, diantaranya bunga flamboyan, bunga air mata pengantin, pepaya, semangka, pisang, belimbing, atau lengkeng. Setelah melakukan pemaparan teori, narasumber memberikan pelatihan praktek pembuatan stup atau tempat budidaya lebah. Seiring berjalannya waktu, koloni lebah akan terus bertambah sehingga membutuhkan stup baru. Waktu yang dibutuhkan untuk pemindahan koloni dilakukan setelah 6 bulan. Adanya peningkatan stup tentunya akan meningkatkan produksi madu yang dihasilkan oleh MPA. Antusiasme terlihat dari masyarakat dalam kegiatan diskusi, dengan moderator Deny Rahardi (Kasubag TU TN Tambora), diskusi dengan masyarakat berjalan dengan intensif dan teratur.

Setelah melakukan kegiatan pelatihan, tim BPPIKHL JabalNusa mengunjungi Bupati Dompu, Nusa Tenggara Barat, Abdul Kader Jaelani. Dalam pertemuan ini, Kepala Balai PPIKHL JabalNusa menyampaikan beberapa poin penting mengenai tema pengendalian perubahan iklim dan kebakaran hutan dan lahan. Haryo Pambudi mengatakan pentingnya dukungan kepala daerah dalam pengendalian karhutla diantaranya melalui pembentukan Brigdalkarhutla tingkat Kabupaten yang beranggotakan multi intansi yang dimandatkan dalam Inpres No 3 tahun 2020 tentang Pengendalian Karhutla. Adanya tata hubungan kerja yang jelas dalam SK Brigdalkarhutla diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian karhutla di wilayah Dompu, dimana Taman Nasional Tambora menjadi bagian wilayahnya. Selain itu, Haryo memaparkan bahwa program kampung iklim (ProKlim) juga diharapkan dapat didorong di Kabupaten Dompu termasuk di desa penyangga sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Dalam diskusi, Bupati Dompu menyatakan kesiapannya dalam mendukung pengendalian karhutla di wilayah Dompu. “Apapun untuk kebaikan alam pasti saya dukung, saya tidak mau ada kejadian karhutla di wilayah Dompu” tutur Abdul Kader Jaelani.

 

Kehumasan BPPIKHL JabalNusa

Satrio Sapta Nugroho

20210504bali030320210504bali030420210504bali0305

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT