KLHK ANTISIPASI BENCANA HIDROMETEOROLOGI DAN KARHUTLA 2021

 Sebagai langkah awal menghadapi bencana hidrometeorologi serta karhutla di seluruh wilayah Indonesia Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melaksanakan Rapat Antisipasi Bencana Hidrometeorologi serta Karhutla Tahun 2021 secara virtual (18/12). Rapat yang dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini dihadiri oleh Kepala BNPB, Kepala BMKG, Kepala BPPT, serta Kepala LAPAN sebagai narasumber.

Kepala BMKG Dwi Korita mengungkapkan analisis musim hujan tahun 2020/2021 diwarnai oleh fenomena iklim global La Nina yang terjadi sejak awal Oktober 2020 dan berdasarkan update dan Dasarian I Desember diprediksi akan berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas La Nina lemah hingga moderat.

“La Nina dapat meningkatkan akumulasi curah hujan bulanan dan musiman di Indonesia, berdasarkan catatan historis data hujan di Indonesia, pengaruh La Nina tidak seragam tergantung pada bulan, daerah, dan intensitas La Nina,” ujar Dwi Korita.

Dwi Korita menambahkan potensi karhutla berdasarkan hotspot pada bulan Januari – Maret 2021 secara umum berpeluang rendah, namun demikian secara historis daerah Riau dan Kepulauan Riau mengalami karhutla pada bulan Februari dan Maret sehingga kesiapsiagaan perlu diperhatikan pada bulan tersebut.

“Kami merekomendasikan masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah rawan karhutla lebih mengoptimalkan menyimpan air pada akhir periode musim hujan untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya melalui gerakan memanen air,” ungkap Dwi Korita.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Munardo dalam paparannya mengharapkan semua instansi yang berperan dalam keberhasilan pencegahan tahun ini seperti Manggala Agni, Tagana, TNI, Polri, pemerintah daerah, para pihak, serta masyarakat bisa melanjutkan pada tahun depan.
“Kami mengharapkan peran serta aktif pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya bencana di wilayah rawan karhutla pada tahun 2021,” ungkap Doni.

Sebagai penutup Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkapkan untuk aspek karhutla kita harus tetap mewaspadai pada Bulan Mei yang sudah masuk musim kemarau.

“Berdasarkan informasi dari BMKG pengendalian karhutla harus mulai ditingkatkan untuk Provinsi Riau dan Kepulauan Riau pada Bulan Februari -Maret,” ungkap Siti.

Siti menambahkan ada enam instrumen dalam pengendalian karhutla meliputi instrumen monitoring hotspot yang berasal dari BMKG dan LAPAN, instrumen patroli, instrumen Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), instrumen Masyarakat Peduli Api (MPA) - Paralegal, instrumen tata kelola gambut, dan instrumen informasi cuaca.

“Kesiapan pemerintah daerah dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana karhutla harus terus ditingkatkan,” pungkas Siti.

Dokumentasi

20201219pkhl0202

20201219pkhl0203

20201219pkhl0204

 

20201219pkhl0206

20201219pkhl0205

 

Tags: Pengendalian Kebakaran Hutan

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT