Cara Desa Cakura Tidak Pernah Kebakaran Hutan Sejak 2014

 

 

16102020sul0401

Desa Cakura, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu desa dengan mayoritas mata pencaharian warganya adalah bertani. Bertopografi cukup datar, desa ini memiliki hamparan lahan yangcukup kering. Kondisi ini menyebabkan hampir setiap tahunnya terdapat kejadian kebakaran hutan dan lahan pada daerah ini. Namun, sejak September 2014, kebakaran hutan dan lahan di Desa Cakura tidak pernah terjadi lagi. Bagaimana caranya?

Ternyata ini semua berawal dari terbentuknya Masyarakat Peduli Api (MPA) yang mereka beri nama MPA Bunga Mawar. Sejak dibentuknya, MPA yang disahkan melalui SK.904/BBKSDASS.19/1/KEU/2011 pada tanggal 8 Juni 2011 ini bertekad untuk menekan kebakaran hutan dan lahan. Motivasi kuat dibalik pembentukan MPA pada Desa Cakura ini karena masyarakat menyadari bahwa tindakan pembukaan lahan dengan bakar lazim dilakukan di desa ini. Sebagai salah satu penyebab kebakaran hutan dan lahan, pembukaan lahan dengan bakar juga menghilangkan rumput yang digunakan sebagai pakan rusa.

Sebagai hewan yang umum ditemui dalam keseharian masyarakat Desa Cakura, wilayah desa ini juga masuk ke dalam Taman Buru Ko’mara dengan populasi hewan burunya adalah rusa. Selain kegiatan bertani, Taman Buru Ko’mara juga mendatangkan nilai ekonomis bagi para penangkar rusa di Desa Cakura sehingga keberadaan pakan rusa di desa ini sangat penting.

Dalam upaya pencegahan kebakaran hutan di Desa Cakura, Bakri Daeng Nai selaku Ketua MPA Bunga Mawar menuturkan pentingnya peranan Manggala Agni Daops Sulawesi. Setiap tahunnya, Manggala Agni Daops Sulawesi akan mengajak MPA Bunga Mawar untuk melaksanakan patroli di titik – titik rawan kebakaran hutan dan lahan. Tidak berhenti di patroli, ketika ada pertemuan di rumah ibadah atau rumah warga, anggota MPA akan menghimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan membakar.

16102020sul0402

 

“Kami sangat berterima kasih dengan keberadaan Mangga Agni Daops Gowa karena selalu mengajak kami melaksanakan patroli. Manggala Agni juga selalu mendampingi kami turun ke lapangan untuk memantau titik – titik rawan kebakaran. Kami juga melakukan sosialisasi kepada warga di rumah ibadah atau rumah warga supaya masyarakat tidak membakar hutan untuk membuka lahan. Sekali lagi terima kasih.” ujar Bakri.

Dalam penutupnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Novia Widyaningtyas, S.Hut., M.Sc., memberikan apresiasi atas pelaksanaan webinar hari ini, Kamis, 15 Oktober 2020 dari masing – masing kantor UPT Balai PPIKHL.

“Saya sangat bangga atas webinar hari ini, khususnya untuk luasnya materi yang dibawakan, ada yang terkait hubungan science, policy, and practice,…sampai pengalaman langsung pemateri dalam pengendalian perubahan iklim dan kebakaran hutan dan lahan” tutup Novia.

Fridollyn Hendriyani Suardi, S.Hut / Tim Publikasi Balai PPIKHL Wilayah Sulawesi

Dokumentasi Pelaksanaan Webinar

 


Tags: Adaptasi Perubahan Iklim

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT