SEMINAR FESTIVAL IKLIM 2020: CONNECTING SCIENCE AND FIRE MANAGEMENT

 Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melaksanakan seminar dalam rangkaian acara Festival Iklim dengan tema "Connecting Science and Fire Management" yang diselenggarakan secara daring (14/10).

Dipandu oleh Penasihat Senior Menteri LHK Bidang Perubahan Iklim dan Konvensi Internasional, Nur Masripatin sebagai moderator, acara ini menghadirkan Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan-Kementerian LHK, Basar Manullang; Guru Besar IPB University, Bambang Hero Saharjo; Deputi Bidang Penginderaan Jauh-LAPAN, Orbita Roswintiarti; serta Deputi Bidang Meteorologi-BMKG, Guswanto.

Dalam sambutannya, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman menyampaikan upaya sekecil apapun yang kita lakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sangat penting untuk mewujudkan langit Indonesia bebas asap. Tantangan karhutla bertambah dimasa panemi Covid 19 karena keterbatasan bergerak di lapangan. Namun hal ini tidak menyurutkan langkah kita untuk mengendalikan karhutla dengan tetap mengutamakan keselamatan petugas di lapangan.

15102020pkhl0201

“Seiring dengan semakin kompleksnya permasalah karhutla maka penerapan sains dan teknologi untuk penanggulangan karhutla menjadi tantangan tersendiri sekaligus menjadi peluang yang harus dikembangkan kedepannya,” ungkap Ruandha.

Dalam pemaparannya Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Basar Manullang mengungkapkan Integrated Fire Management melibatkan pengintegrasian antara tiga komponen teknis dari fire management, ekologi kebakaran dan kebutuhan sosial ekonomi serta budaya dalam penggunaan api.

“Di Indonesia implementasi fire management tercantum pada PermenLHK No. 32/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang mengatur tentang Pengendalian Karhutla secara menyeluruh,”ungkap Basar

Basar menambahkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang disebutkan dalam Permen LHK No.32/2016 meliputi usaha/kegiatan/tindakan pengorganisasian, pengelolaaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana serta operasional pencegahan, pemadaman, penanganan pasca kebakaran, dukungan evakuasi dan penyelamatan, dan dukungan manajemen pengendalian kebakaran hutan dan/atau lahan.

15102020pkhl0205

“Setelah kebakaran tahun 2015 kita melaksanakan paradigma baru pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan lebih mengutamakan pencegahan sebagai metode utama pengendalian karhutla,”jelas Basar.

Upaya pencegahan ini meliputi teknologi modifikasi cuaca, pemberdayaan masyarakat seperti pembentukan dan pembinaan mpa, tim pendamping desa, penyadartahuan, sosialisasi dan kampanye untuk penyadartahuan pencegahan karhutla, patroli pencegahan, peringatan dan deteksi dini, serta pengurangan resiko karhutla melalui pemanfaatan bahan bakaran, cuka kayu, briket arang, kompos, dan penguatan keteknikan pencegahan seperti sekat kanal, embung, sekat bakar.

Pembicara kedua, Bambang Hero Sahardjo mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia adalah karena perbuatan manusia 99,9% sehingga oleh karenanya dapat dikendalikan.

15102020pkhl0202

“Meningkatnya luas gambut yang terbakar seharusnya menjadi perhatian semua pihak, tidak hanya pemerintah pusat, karena mencerminkan upaya yang dilakukan di tingkat tapak dan pembiaran akan meningkatkan emisi gas rumah kaca,” ungkap Bambang.

Pembicara ketiga, Orbita Roswintiarti mengungkapkan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh untuk mendeteksi hotspot dan area terbakar memiliki keunggulan dan keterbatasan. Keunggulannya meliputi cakupan wilayah yang luas, ketersediaan data regular, pengolahan data konsisten (tidak tergantung operator) dan cepat, serta biaya yang relatif murah.

Sedangkan keterbatasannya apabila tertutup awan, maka proses identifikasi hotspot dan area terbakar tidak dapat dilakukan, luas area terbakar yang kecil (kurang dari resolusi spasial data yang digunakan) tidak dapat teridentifikasi, kebakaran yang terjadi pada lereng gunung atau perbukitan, menghasilkan estimasi luas area terbakar kurang optimal.

“Diperlukan validasi dan verifikasi lapangan yang terus menerus, dengan harapan data lapangan yang diperoleh dari KLHK, BNPB, Pemerintah Daerah, serta para pihak dapat digunakan untuk lebih meningkatkan akurasi produk informasi tersebut,”jelas Orbita.

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto mengungkapkan produk BMKG yang mendukung pengendalian karhutla meliputi Fire Danger Rating System, monitoring hotspot dan sebaran asap, informasi awal perkembangan musim kemarau, prospek cuaca 7 hari kedepan, serta kualitas udara.

“Outlook Iklim 2020/2021, bulan Oktober beberapa sudah akan memasuki musim hujan, dimana puncak musim hujan umumnya dominan dibulan Januari – februari 2021, hingga 6 bulan kedepan kondisi iklim sangat mendukung untuk pencegahan karhutla di wilayah Indonesia,”ungkap Guswanto.

Perkembangan teknologi pengendalian karhutla hingga saat ini terus dimanfaatkan untuk mengatasi bencana karhutla yang semakin komplek. Basis science juga selalu diperhatikan dalam pembuatan kebijakan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

15102020pkhl0204

Tags: Pengendalian Kebakaran Hutan

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT