Kekuatan Media dalam Mendukung Pengendalian Perubahan Iklim

 Kamis, 11 Juni 2020 telah dilaksanakan Bincang Iklim Sesi 8 yang dihadiri oleh staf teknis dan fungsional lingkup Balai PPIKHL. Sesi 8 merupakan sesi pamungkas dari putaran pertama diskusi “Bincang Iklim” yang diselenggarakan oleh BPPIKHL Wil. JabalNusa. Berbeda pada sesi-sesi sebelumnya, pembahasan pada kesempatan ini difokuskan pada peningkatan peran media dan kaum milenial dalam mendukung pengendalian perubahan iklim dan secara khusus pada bidang ketahanan kesehatan. Diskusi dipandu moderator Endah Sulistyowati, S.Hut., dan Kepala BPPIKHL Wil. JabalNusa, Haryo Pambudi, S.Hut., M.Sc., selaku narasumber pembahas yang senantiasa memberikan catatan penting di akhir acara. Seperti pada sesi sebelumnya, dihadirkan tiga pembicara yaitu Ikhwanudin Rofi’i, S.Hut dengan judul “Media dan Pengendalian Perubahan Iklim”, Mu’linatul Fitriani, A.Md. dengan judul “Generasi Milenial dan Perubahan Iklim”, dan Atik Murwatiningrum, S.Sos dengan judul “Ketahanan Kesehatan dalam Perubahan Iklim”.

jbnomen20jun41

Media yang sangat krusial dalam mendukung upaya pengendalian perubahan iklim, diantaranya sebagai sarana komunikasi, edukasi, penyampaian dan memperjelas informasi, serta mendapatkan atensi dari publik. Lebih lanjut Ikhwan menyampaikan bahwa media juga berperan sebagai perantara dalam transfer pengetahuan antara ilmuan atau peneliti dalam menyampaikan hasil penelitiannya kepada masyarakat luas. Optimalisasi media di setiap UPT dapat didukung dengan upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia yang ada. Disaat bersamaan dukungan anggaran dan adanya kemajuan teknologi serta inovasi dapat menjadi faktor utama untuk mengoptimalkan penyebarluasan informasi dalam pengendalian perubahan iklim di wilayah kerja masing-masing. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam penyebarluasan informasi, diantaranya membiasakan staf untuk membuat tulisan dari setiap kegiatan, edukasi informasi palsu (hoax), dan menyederhanakan istilah dalam perubahan iklim agar mudah dipahami oleh masyarakat. “Jujur, menurut saya, beberapa istilah dalam perubahan iklim cukup sulit untuk dipahami, sehingga menjadi PR bersama bagaimana menyederhanakan itu dan mengemasnya semenarik mungkin yang dituangkan dalam bentuk publikasi, agar mudah dipahami dan berkesan di masyarakat”, jelas Ikhwan. Selain itu di masa pandemi seperti ini, media yang dimiliki balai harus ditingkatkan penggunaannya untuk mengedukasi masyarakat.

jbnomen20jun42

 

Penyusunan publikasi dan penyebarluasan informasi di era teknologi sekarang ini memerlukan peran generasi milenial. Penyaji kedua, Mu’linatul Fitriani atau Pipit sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa generasi milenial memiliki potensi strategis dalam pengendalian perubahan iklim. Mengutip tulisan Elwood Carlson dalam bukunya yang berjudul The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom, bahwa generasi milenial merupakan mereka yang lahir pada tahun 1983 sampai dengan 2001. Saat ini generasi milenial di Indonesia cukup banyak. Dikutip dari BPS Statistik tahun 2019, Jumlah penduduk Indonesia yang lahir di rentang tahun 1980-2020 mencapai 88.743.500 jiwa atau kurang lebih 32,35% dari seluruh penduduk Indonesia. Lebih lanjut, Pipit, menjelaskan bahwa generasi milenial memandang perubahan iklim adalah salah satu permasalahan utama dunia. “Perubahan iklim merupakan masalah paling utama, diikuti perang dunia dan konflik agama bagi generasi milenial berdasarkan kajian dari World Economic Forum pada tahun 2016”, Jelas Pipit. Dilihat dari realita yang ada, diketahui bahwa generasi milenial di Indonesia memiliki potensi dan kontribusi yang harus diperhitungkan dalam penanganan perubahan iklim. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya yaitu mengurangi limbah plastik, membuat taman urban, mengembangkan pertanian organik, dan senantiasa mengampanyekan pola hidup ramah lingkungan di media sosial.

jbnomen20jun43

Pola hidup ramah lingkungan ini menjadi salah satu faktor dalam adaptasi perubahan iklim untuk mewujudkan ketahanan kesehatan. Atik Murwatiningrum, S.Sos memaparkan bahwa perubahan iklim memiliki dampak negatif secara langsung ataupun tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Perubahan suhu secara ekstrim di bumi menjadi ciri terjadinya perubahan iklim menuntut manusia untuk beradaptasi. Namun ketika adaptasi tidak berjalan dengan baik, maka akan mempengaruhi kesehatan manusia. Dan dampak ini tidak hanya kepada manusia, namun juga berpengaruh pada makhluk hidup lainnya yang kemudian secara langsung maupun tidak juga akan berdampak terhadap manusia. Ketahanan kesehatan menjadi sektor sensitif yang sifatnya lintas sektoral, sehingga menjadi perhatian banyak pihak, terutama pada saat pandemi saat ini diantara banyaknya teori yang berkembang, seluruhnya bersepakat pada satu hal ketahanan kesehatan adalah penting. Beberapa solusi atas permasalahan seputar ketahanan kesehatan diantaranya penguatan sistem ketahanan melalui identifikasi, pencegahan dan pengendalian, penguatan pada sistem peringatan dini guna menekan potensi dampak permasalahan, dukungan regulasi/kebijakan yang lebih besar dan lintas sektoral termasuk didalamnya program kesehatan masyarakat. Solusi yang juga menjadi perhatian untuk terus ditingkatkan adalah dengan menggencarkan komunikasi jejaring melalui kampanye dan pemberdayaan dan sebagainya. “Alternatif solusi ini tentunya tidak serta merta menyelesaikan permasalahan, namun perlu adanya dukungan lintas dan multi sektoral”, tegas Atik.

Haryo, memberikan catatan bahwa ketahanan kesehatan menjadi salah satu bidang yang terdampak dari adanya perubahan iklim dan memerlukan upaya adaptasi PI. Variabilitas iklim dan terjadinya cuaca yang ekstrim berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan dan peningkatan vektor penyebab penyakit. Upaya Adaptasi perubahan iklim memerlukan dukungan multipihak diantaranya melalui pembentukan instrumen kebijakan, dukungan penganggaran, integrasi dalam rencana pembangunan, pendekatan secara lanskap, peningkatan literasi pengetahuan iklim dan kesehatan serta mendorong peningkatan kapasitas dan partisipasi pemangku kepentingan sampai pada tingkat tapak. Inovasi dan perkembangan teknologi yang adaptif sangat diperlukan dalam menunjang pengendalian perubahan iklim. Lebih lanjut, Haryo memberikan catatan bahwa jika dilihat dari statistik, media sosial dengan berbagai platform saat ini merupakan yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, media sosial yang dimiliki harus dioptimalkan sebaik mungkin, sehingga menjadi alat penyebarluasan yang efektif dalam rangka mendukung ketahanan iklim dan pengurangan emisi GRK. Bak gayung bersambut, target yang potensial untuk tujuan penyebarluasan informasi adalah generasi milenial yang aktivitas hariannya tidak lepas dari aktivitas di dunia digital terutama media sosial. Di akhir catatan, sekaligus mengakhiri sesi diskusi, beliau, berpesan untuk mengoptimalkan setiap kesempatan yang ada dan perkembangan teknologi untuk penguatan data base dalam dalam rangka memproyeksi iklim di masa yang akan datang. Hal ini diperlukan dalam rangka meningkatkan kapasitas individu, instansi dan merumuskan rencana aksi serta target yang ingin dicapai. “Lakukan yang terbaik selagi kesempatan itu ada”, tuturnya sembari menutup Bincang Iklim sesi 8 ini.

Kehumasan BPPIKHL JabalNusa

Ikhwanudin Rofi’i, S.Hut

Atik Murwatiningrum, S.Sos

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT