• Beranda
  • Berita
  • Indonesia Mengusulkan Pembayaran Berbasis Kinerja pada Pilot Program Green Climate Fund, United Nations Framework Convention on Climate Change, untuk REDD+

Indonesia Mengusulkan Pembayaran Berbasis Kinerja pada Pilot Program Green Climate Fund, United Nations Framework Convention on Climate Change, untuk REDD+

 

Indonesia Mengusulkan Pembayaran Berbasis Kinerja pada Pilot Program Green Climate Fund, United Nations Framework Convention on Climate Change, untuk REDD+


JAKARTA, November 15 – Indonesia menjadi negara pertama di Asia Pasifik yang telah mengusulkan proposal pembayaran berbasis kinerja REDD+ kepada Green Climate Fund, United Nations Framework Convention on Climate Change, untuk pengurangan emisi gas rumah kaca melalui program REDD+ antara tahun 2014 – 2017.

KLHK telah menyampaikan proposal untuk mendapatkan pembayaran berbasis kinerja tersebut pada tanggal 8 November 2019 dengan dukungan dari UNDP sebagai accredited entity. Jika disetujui oleh Board GCF, pembayaran berbasis kinerja tersebut diharapkan dapat dilakukan pada paling cepat pertengahan tahun 2020.

Potensi jumlah pembayaran berbasis kinerja tersebut dapat mencapai USD 100 juta. Pendanaan GCF yang akan diakses tersebut merupakan pendanaan pilot program untuk fase pembayaran berbasis kinerja (result-based payment) REDD+ yang diberikan kepada negara-negara yang mengusulkan kepada GCF dan memenuhi persyaratan yang ditentukan. Total dana yang ditujukan untuk piloting fase result-based payment REDD+ sebesar USD 500 juta untuk periode 2017-2022. Pembayaran berbasis kinerja diberikan maksimal 30 juta tCO2e untuk setiap negara selama periode piloting.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Dr Ruandha Agung Sugardiman, menyatakan bahwa penyampaian proposal tersebut merupakan pertanda capaian upaya Indonesia dalam melakukan perlindungan hutan dalam menghadapi berbagai kendala perubahan iklim global.

Demikian pula, GCF telah menyetujui untuk memberikan pembayaran berbasis kinerja kepada Barzil sebesar USD 96.5 million dan Equador sebesar USD 18.6 million. Negara lain, seperti Chili dan Paraguay sedang menunggu hasil penilaian GCF Board atas proposal yang telah mereka sampaikan ke GCF. Saat ini, Indonesia merupakan negara satu-satunya di Asia Pasific yang telah menyampaikan proposal untuk mengakses dana piloting yang tersedia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia yang merupakan habitat bagi keanekaragaman spesies hewan dan tumbuhan. Sebanyak sekitar 50-60 juta masyarakat Indonesia bergantung secara langsung pada hutan Indonesia untuk mendukung kehidupannya. REDD+ merupakan system insentif positif atas kinerja dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan, dan peran konservasi, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, serta peningkatan stok karbon.

Pemerintah Indonesia merencanakan penggunaan dana tersebut untuk memperkuat implementasi REDD+ di tingkat local, seperti melalui KPH dan program perhutanan social. Sebagian dari hasil pembayaran berbasis kinerja tersebut juga akan dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur REDD+. Badan Pengelola Dana LH diharapkan dapat menjadi implementing partner dalam pengelolaan hasil pembayaran berbasis kinerja tersebut.

 

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT