PENINGKATAN KAPASITAS ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM BAGI NEGARA-NEGARA SEGITIGA TERUMBU KARANG (CORAL TRIANGLE COUNTRIES)

 

PENINGKATAN KAPASITAS ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM BAGI NEGARA-NEGARA SEGITIGA TERUMBU KARANG (CORAL TRIANGLE COUNTRIES)

JAKARTA (API). Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki luas wilayah terumbu karang hingga mencapaijunapi1901 lebih dari 2,5 juta hektar, dengan keragaman karang dan ikan yang tinggi. Indonesia bersama-sama dengan lima negara lain yakni Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon merupakan wilayah yang terletak pada kawasan segitiga terumbu karang dunia. Kawasan ini memiliki nilai strategiskarena kaya akan sumber daya alam, namun demikian juga menghadapi ancaman kerusakan yang cukup tinggi. Kekayaan terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang dunia berfungsi sebagai penopang produksi sumber daya perikanan dunia serta memiliki peranan penting dan strategis bagi masyarakat di kawasan tersebut karena menyediakan jasa ekosistem yang memiliki peran penting bagi ekonomi dan budaya bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Melihat peran penting segitiga terumbu karang tersebut, maka dibentuk Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Securities (CTI CFF) atau Prakarsa Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan dan Ketahanan Pangan dengan anggota enam negara yang berada di Segitiga Karang Dunia tersebut. CTI-CFF merupakan kemitraan multilateral dari enam negara tersebut untuk bersama-sama melestarikan sumber daya laut dan pesisir dengan menangani masalah-masalah penting seperti keamanan pangan, perubahan iklim, dan keanekaragaman hayati laut. Prakarsa tersebut secara resmi dibentuk pada tahun 2009 melalui Leaders's Declaration oleh 6 kepala negara CT6 dalam CTI Summit di Manado.

Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden nomor 85 Tahun 2015 membentuk Komite Nasional Prakarsa Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Indonesia dengan Ketua Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dengan anggota komite salah satunya adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Komite nasional tersebut memiliki kelompok kerja, salah satunya adalah kelompok kerja adaptasi perubahan iklim dengan penanggungjawab Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK.

Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan temperatur air laut, kenaikan muka air laut, pengasaman laut, serta penurunan salinitas laut akan memberikan dampak terhadap ekosistem pesisir dan laut yang selanjutnya akan mengancam keberadaan terumbu karang, sumberdaya perikanan serta ketahanan pangan masyarakat. Menyadari hal tersebut upaya peningkatan kapasitas adaptasi bagi negara-negara CT 6 menjadi sangat penting. Berkaitan dengan hal tersebut maka Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta didukung oleh Sekretariat Komite Nasional CTI-CFF Indonesia, Sekretariat Regional CTI-CFF, GIZ-Climate Governance serta The Nature Conservancy menyelenggarakan Climate Change Adaptation Capacity Building in Coral Triangle Countries: Increasing Resilience and Adaptive Capacity of Coastal and Marine Ecosystem through Technical and Communication, Education and Public Awareness Workshop di Hotel Aston Marina Ancol Jakarta pada tanggal 2-4 Juli2019.

junapi1902Kegiatan yang merupakan mandat dari Senior Official Meeting (SOM) 13 CTI CFF Tahun 2017 dan SOM 14 CTI CFF 2018 di Manila dibuka oleh Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, KLHK, Dr. Ir. Agus Justianto, M.Sc. mewakili Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK selaku Penanggungjawab Pokja Perubahan Iklim CTI-CFF Nasional. Kegiatan workshop dibagi dalam dua workshop teknis yakni workshop untuk peningkatan pemahaman terkait ketahanan iklim yang dilakukan dengan memberikan materi terkait pemahaman konsep dan strategi adaptasi perubahan iklim, pemahaman jasa ekosistem pesisir dan laut, identifikasi kerentanan dan peningkatan ketahanan iklim serta workshop untuk mendorong peningkatan kapasitas dalam komunikasi, edukasi dan kesadaran masyarakat untuk dapat menjalankan berbagai program adaptasi perubahan iklim terkait CTI-CFF. Agar pemahaman yang diperoleh tidak sebatas teori dalam ruangan, kegiatan juga dilakukan dengan melakukan studi lapangan terkait ekosistem dan masyarakat pesisir dengan lokasi di Suaka Margasatwa Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu.

Kegiatan ini selain dihadiri delegasi dari enam negara CTI juga dihadiri peserta dari dalam negeri seperti perwakilan dari berbagai unit kerja pusat dan direktorat dibawah KLHK dan KKP, serta perwakilan berbagai balai yang ada di daerah dibawah KLHK seperti Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan, Balai Taman Nasional, dan juga perwakilan instansi yang ada di daerah dibawah KKP seperti Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut serta berbagai NGO/LSM seperti WCS Indonesia, Conservation International Indonesia dan Reefcheck Indonesia. Melalui kegiatan ini yang mengambil tagline: Healthy Marine and Coastal for Climate Resilience diharapkan dapat mendorong upaya pengelolaan ekosistem pesisir dan laut dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim di wilayah segitiga terumbu karang sebagaimana menjadi tujuan dari CTI CFF dan juga membantu mewujudkan komitmen Indonesia yang tertuang dalam dokumen the 1st Nationally Determined Contribution (NDC) yakni ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan sumber penghidupan serta ketahanan ekosistem dan lanskap.

Informasi lebih lanjut:

Direktorat Adaptasi Perubahan IKlim

Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Gedung Manggala Wanabhakti, Blok 4 Lantai 6 Wing A

Jl. Gatot Subroto, Jakarta 10270

Telp/Fax. 021 5747053, Email: adaptation.moe.id@gmail.com          

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT