• Beranda
  • Berita
  • Skema Penyelesaian Konflik Tenurial sebagai Salah Satu Kunci Keberhasilan Implementasi Pengelolaan Hutan dan Lahan Berkelanjutan melalui Program REDD+ BioCarbon Fund ISFL di Provinsi Jambi

Skema Penyelesaian Konflik Tenurial sebagai Salah Satu Kunci Keberhasilan Implementasi Pengelolaan Hutan dan Lahan Berkelanjutan melalui Program REDD+ BioCarbon Fund ISFL di Provinsi Jambi

 

Skema Penyelesaian Konflik Tenurial

sebagai Salah Satu Kunci Keberhasilan Implementasi Pengelolaan

Hutan dan Lahan Berkelanjutan melalui Program REDD+

BioCarbon Fund ISFL di Provinsi Jambi

 

Provinsi Jambi menghadapi tantangan dalam pengelolaan hutan dan lahan yang diantaranya berasal dari konflik tenurial yang bersifat laten (belum bersifat terbuka) dan konflik yang bersifat manifest (sudah ada konflik). Hal ini mengemuka dalam pertemuan Focus Group Discussion (FGD) Upaya Mendorong Penyelesaian Konflik Tenurial dalam Mendukung Program BioCF ISFL di Provinsi Jambi di Swissbell Hotel Jambi pada tanggal 19 Juni - 21 Juni 2019 yang difasilitasi oleh Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim, Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Tim Program BioCF ISFL Provinsi Jambi. Dalam sambutannya, perwakilan Direktorat Mitigasi menegaskan bahwa dalam mengidentifikasi skema penyelesaian konflik tenurial perlu dilaksanakan identifikasi area program, identifikasi penyebab emisi AFOLU, deskripsi land and tenure pada program area. Lebih lanjut disampaikan bahwa proses identifikasi tersebut juga harus mampu mengindetifikasi implikasi dan merumuskan solusinya terutama difokuskan untuk pelaksanaan program BioCF ISFL 2020-2025.

Pertemuan dilanjutkan dengan penyampaian pembelajaran keberhasilan dan kegagalan dalam penyelesaian konflik serta keefektifan peran dan fungsi kelembagaan penyelesaian konflik di Provinsi Jambi. Perwakilan UPT KLHK yang mempunyai wilayah kerja di Provinsi Jambi, unsur OPD (Badan/Dinas) yang menangani konflik tenurial, KPHP, Tim Terpadu Penanganan Konflik Kabupaten, Perguruan Tinggi, Pemegang Izin konsesi bidang Kehutanan (Hutan Tanaman Industri dan Restorasi Ekosistem), NGO memiliki pengalaman yang bervariasi dalam penyelesaian konflik tenurial. Berdasarkan pemaparan dan diskusi didapatkan bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dengan pendekatan bervariatif dan diyakini bahwa masing-masing pengalaman itu mempunyai catatan masing-masing juga, dan ada positif dan negatifnya, dan diharapkan dari masing-masing pengalaman dan pendekatan yang telah dilakukan tersebut dapat saling melengkapi.

mitijuni1901Salah satu contoh pembelajaran yang diperoleh diantaranya pembelajaran di TN Bukit Dau Belas yang berhasil melakukan penanganan konflik tenurial dengan memadukan antara tata aturan adat Orang Rimba dengan pengelolaan taman nasional dengan sistem zonasi, bahkan sampai mengakomodir bentuk pengelolaannya dengan nama lokal yang dituangkan di dalam SK Dirjen KSDAE. Selain itu, TN Bukit Tiga Puluh menggunakan pendekatan program pemberdayaan masyarakat yang dapat menggantikankebun kelapa sawit seluas 30 ha yang telah ditanam oleh masyarakat di dalam kawasan Taman Nasional. Keberhasilan ini juga tak lepas dari kontribusi mitra pendamping yang terlibat dalam proses penyelesaian konflik tenurial yang terjadi di kawasan konservasi.

Berdasarkan hasil diskusi ditekankan bahwa skema penyelesaian konflik tenurial yang digunakan di Provinsi Jambi yaitu : Negosiasi, Mediasi, Penegakan Hukum, dan Kolaborasi, sedangkan pendekatan di dalam mendorong penyelesaian konflik menggunakan : Pendekatan skema perhutanan sosial, TORA, Kemitraan Konservasi, Pemberdayaan Masyarakat. Namun demikian masih belum terdapat satu pendekatan yang paling ideal yang tepat di terapkan untuk penyelesaian konflik tenurial di seluruh wilayah Jambi, hal ini tergantung situasi dan status kawasan.Setiap model / skema penyelesaian (kemitraan konservasi, Perhutanan sosial, TORA, penegakan hukum, kolaborasi, negosiasi dan mediasi) mempunyai catatan dan keunikan tersendiri. Dukungan dan keinginan bersama para pihak menyelesaikan konflik menjadi kunci keberhasilan penyelesaian konflik selain itu pendanaan menjadi hal krusial yang harus diperhatikan dan waktu yang di butuhkan untuk menyelesaikan konflik juga bervariatif.

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam penyelesaian konflik tersebut adalah adanya faktor langsung dan tidak langsung yang mempengaruhi dinamika dan eskalasi konflik. Konflik tenurial hadir dari berbagai sisi dengan berbagai pola dan aktor. Hal lain adalah adanya tekanan eksternal yang pada umumnya menjadi ancaman terbesar di dalam mendorong dinamika dan eskalasi konflik tenurial yang terjadi. Oleh karenanya assesment secara keseluruhan (internal dan eksternal) dengan menggunakan pendekatan landscape yang terintegrasi sangat penting dilakukan. Ketimpanganpemahaman para pihak dalam rangka skema penyelesaian konflik dengan menggunakan pendekatan non-litigasi(alternative dispute resolution), beserta regulasi yang memayunginya juga merupakan hal yang harus ditindaklanjuti

Oleh karenanya diperlukan skema penyelesaian konflik yang implementatif didasarkan dari berbagai skema penyelesaian konflik tenurial dengan menggunakan pendekatan non-litigasi beserta contoh proses fasilitasi yang telah dilakukan. Secara paralel juga diperlukan peningkatan kapasitas para pihak dalam upaya mendorong penyelesaian konflik tenurial di wilayah provinsi Jambi.

_(IC CAO, emt)_

mitijuni1902

Suasana penggalian informasi pada FGD Upaya Mendorong Penyelesaian Konflik Tenurial Dalam Mendukung Program BioCF ISFL di Provinsi Jambi di Swiss belhotel, Jambi (19 Juni - 21 Juni 2019)

membagi informasi ini:

SURVEY KEPUASAN MASYARAKAT