Audiensi Proyek APIK dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur

 

SURABAYA (API). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan USAID berupaya meningkatkan upaya-upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan bencana melalui suatu program yang diberi nama APIK (Adaptasiadaptasimei1911 Perubahan Iklim dan Ketangguhan). APIK diimplementasikan di level nasional dan mengambil lokasi di 3 provinsi yaitu Maluku, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur. Proyek ini telah berjalan 3 tahun sejak akhir tahun 2015. Berhubung terjadi pergantian pucuk pimpinan daerah Provinsi Jawa Timur, proyek APIK berinisiatif melakukan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal 22 April 2019. Dari proyek APIK hadir Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK, Dra. Sri Tantri Arundhati, M.Sc selaku Technical Counterpart Agency (TCA) Proyek APIK, Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Bpk. Raditya Jati, selaku salah satu anggota Tim Teknis APIK, Direktur Pelaksana Kantor Lingkungan Hidup USAID, dan Chief of Party Development Alternatives Inc. selaku mitra pelaksana proyek APIK. Rombongan proyek APIK diterima oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Elistianto Dardak didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH), adaptasimei1912Kepala Bappeda, dan Kepala BPBD. Dalam kesempatan tersebut hadir pula Konsulat Jenderal Amerika Serikat yang berkedudukan di Surabaya. Tim Proyek APIK menyampaikan perkembangan pelaksanaan Proyek APIK di Jawa Timur yang meliputi 7 kabupaten/kota yaitu Kab. Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kab. Blitar, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, dan Kab. Sidoarjo.

Wagub Jawa Timur menyambut positif pelaksanaan Proyek APIK dan diharapkan proyek ini berkontribusi signifikan dalam meningkatkan resiliensi masyarakat Jatim terhadap bencana iklim. Wagub mendengar penjelasan kemajuan pelaksanaan proyek dan secara antusias berinteraksi mengenai hasil-hasil kajian perubahan iklim dan potensi dampaknya di Jawa Timur. Wagub menekankan pentingnya alokasi sumberdaya pemerintah secara lebih baik untuk menyasar populasi yang tergolong paling rentan terkena dampak perubahan iklim. Selanjutnya, Wagub memerintahkan kepada Kepala Dinas LH dan Kepala BPBD agar berkoordinasi untuk membedah Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) memanfaatkan hasil-hasil kajian APIK.

Selain melakukan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim juga berkesempatan menyimak paparan kemajuan kerjasama APIK dengan Yayasan Multi Bintang Indonesia di 3 desa rawan banjir di Mojokerto; meninjau tanaman tebu hasil kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tebu di Desa Wonokerto Kab. Malang; meninjau lokasi proyek APIK di Desa Sumberagung Kab. Malang; meninjau adaptasi petani apel Kota Batu melalui alih komoditas dari apel ke tanaman labu siam; dan melihat dari dekat mata air yang menjadi pemasok air bersih untuk masyarakat Kota Malang yang berlokasi di Kota Batu.

SLI mampu memberikan keuntungan yaitu menurunkan biaya produksi dari perlakuan yang sesuai untuk gulma dan penggerek pucuk. Produksi tebu meningkat dari 9 menjadi 12 ton/ha (1-2 truk menjadi 2,5 truk sekali panen). Selain dari aspek produksi, rendeman tebu juga naik dari 13,59% menjadi 14,25% karena menanam tebu dari bibit baru hasil SLI. Seharusnya tebu diganti setiap 4 tahun sekali tetapi karena keterbatasan bibit, petani agak sukar untuk meremajakan kembali tebunya. Untuk itu, petani sekarang membuat semacam koperasi untuk penyediaan bibit tebu di kebun bibit yang telah bersertifikasi. Harga bibit tebu ini lebih mahal dibandingkan dengan menjual tebu hasil panen ke pabrik.

Selain tebu, komoditi labu siam juga memberikan keuntungan dari aspek biaya pemeliharaan/produksi yang jauh lebih murah dibandingkan apel. Meskipun harga labu siam sekitar Rp 2.000,-/kg tetapi masyarakat dapat panen setiap dua hari sekali. Pada saat puncak produksi, dengan lahan pekarangan 12x10 meter dapat menghasilkan 150 kg. Secara ekologi, pertumbuhan labu siam dengan cara merambat di para-para (yang terbuat dari bambu) memperkecil volume air hujan yang jatuh ke tanah sehingga mengurangi runoff dan erosi.

 

adaptasimei1913Direktur Adaptasi Perubahan Iklim berdialog dengan petani peserta SLI tebu di Desa Wonokerto Kab. Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

adaptasimei1914Salah satu hasil nyata aktifnya Forum API-PRB di Desa Sumberagung Kab. Malang adalah penggunaan dana desa untuk membangun tandon air hujan guna menanggulangi kekeringan di desa tersebut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

adaptasimei1915Beberapa petani binaan proyek APIK di Kota Batu beradaptasi terhadap turunnya produksi tanaman apel dan tingginya biaya produksi dengan mengganti tanaman apel dengan tanaman labu siam

 

 

 

membagi informasi ini: