• Beranda
  • Berita
  • Balai PPIKHL Wilayah Sumatera Laksanakan Sosialisasi Pemantauan Konsumsi dan Penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) di Batam

Balai PPIKHL Wilayah Sumatera Laksanakan Sosialisasi Pemantauan Konsumsi dan Penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) di Batam

 

Balai PPIKHL Wilayah Sumatera Laksanakan Sosialisasi Pemantauan Konsumsi dan Penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) di Batam

sepsum41

Demi mendukung tugas dan fungsi Balai PPIKHL Wilayah Sumatera sebagai fasilitasi kapasitas daerah dalam mitigasi perubahan iklim, Balai PPIKHL Wilayah Sumatera melakukan sosialisasi pemantauan Penggunaan BPO Sektor Servicing dan Refrigerasi di Ballroom I Hotel Baloi, Batam (6/09).

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Balai PPIKHL diwakili Syamsuddin, SP selaku Kepala Seksi Perubahan Iklim. Dalam sambutannya, Syamsuddin menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Mitigasi, Ditjen PPI yang turut mendukung berlangsungnya kegiatan ini dan kepada seluruh pihak terkait dalam hal ini Pemerintah Kota Batam serta pihak industri, perhotelan dan rumah sakit.

Balai PPI Wilayah Sumatera sangat apresiasi terhadap kegiatan ini dikarenakan masih kurangnya informasi bagaimana implementasi program BPO di daerah. Dengan adanya kegiatan BPO, sosialisasi teknisi bersertifikat di wilayah Sumatera akan lebih mudah.

Acara ini bertujuan untuk sosialisasi penggunaan BPO berupa R22 (Freon) yang masih digunakan pelaku usaha industri, perhotelan dan rumah sakit di Kota Batam. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta, terdiri dari APITU (Asosiasi Praktisi Pendingin dan Tata Udara Indonesia), industri, rumah sakit dan perhotelan. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini terdiri dari pemberian materi kepada peserta dan monitoring lapangan.

Pemateri pertama Didi Wahyudi ST selaku Kasi Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Batam menyampaikan materi mengenai regulasi dan kebijakan penggunaan, monitoring dan pengelolaan BPO di Kota Batam. 

sepsum42

Penyampaian materi di hadapan peserta kegiatan dan pengamatan refrigerant

Pemateri kedua Deddy El Rashid dari American Society of Heating, Refrigerating, dan Air-Conditioning Engineers (ASHRAE) menyampaikan materi tentang pengelolaan tata udara di bangunan dan gedung. Disampaikan juga manfaat efisiensi energi dan penggunaan refrigerant dalam pendingin untuk Gedung. 

Pemateri ketiga Mulkan dari KLHK menyampaikan materi tentang pengaruh BPO terhadap penipisan lapisan ozon, dan implikasi penggunaan BPO terhadap perubahan iklim, serta hubungan antara BPO dan GRK dalam perlindungan lapisan Ozon dan Pengendalian Perubahan Iklim.

Disampaikan pula peran teknisi yang kompeten dalam menjaga perlindungan lapisan ozon dan perubahan iklim. Pentingnya peran pemerintah untuk menciptakan teknisi berkompeten dalam rangka menciptakan lapangan kerja dikarenakan permintaan yang tinggi dan dalam rangka perlindungan konsumen terhadap AC dan lemari pendingin yang tidak mudah rusak.

Kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab kepada peserta dan melihat Chiller di Hotel tempat pelaksanaan kegiatan. Ditemukan Refrigerant yang digunakan untuk Chiller adalah R22, kapasitas 250 Ton Refrigerasi (TR). Setelah pengamatan dilanjutkan dengan diskusi dalam ruangan.

Hari kedua kegiatan diisi dengan melakukan monitoring di Rumah Sakit Awal Bros dan Hotel di lingkungan Kota Batam. RS Awal Bros Sendiri merupakan rumah sakit yang telah melakukan ISO meliputi pengelolaan BPO. Juga monitoring ke BCC Hotel dan Allium Hotel, masih banyak hotel yang belum memiliki pemahaman terhadap penggunaan BPO.

Terlaksananya kegiatan sosialisasi ini diharapkan Kota Batam memiliki teknisi yang berkompeten dalam menjaga lapisan ozon dan perubahan iklim. Selain itu disampaikan juga mengenai pentingnya perawatan AC secara rutin untuk menjaga kualitas udara dan usia pakai yang lebih lama. Efisiensi energi akan tercapai apabila temperatur AC dijaga di 24-25OC.

Pemerintah Kota Batam sangat mendukung kegiatan sosialisasi ini dan berharap semakin banyak teknisi bersertifikat di Kota Batam. Karena Batam merupakan daerah border, dimana banyak pekerjaan servis kapal dilakukan, sementara jumlah teknisi bersertifikat masih sangat kurang.

Pemko Batam berkeinginan untuk dapat mengelola Pusat Reklamasi Refrigeran, mengingat banyaknya Refrigeran yang tidak dikelola. Diharapkan peran pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dapat melakukan sertifikasi terhadap teknisi yang ada di Kota Batam.

Monitoring lapangan ke hotel BBC dan hotel Allium di Kota Batam

Monitoring ke RUmah Sakit Awal Bros Kota Batam

membagi informasi ini: