Negara Asean Apresiasi Keberhasilan Pencegahan Karhutla di Indonesia

 

Negara Asean Apresiasi Keberhasilan Pencegahan Karhutla di Indonesia

asean1

asean2Indonesia mendapat apresiasi dari negara-negara peserta TWG/MSC atas keberhasilan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Technical Working Group (TWG) on Transboundary Haze Pollution yang dilanjutkan dengan Pertemuan The Sub-Regional Ministerial Steering Committee (MSC) on Transboundary Haze Pollution di Bangkok, Thailand pada tanggal 31 Mei – 1 Juni 2018.

Dalam pertemuan TWG/MSC tersebut, para anggota sidang menyampaikan apresiasi atas upaya Indonesia dalam pencegahan, peningkatan kesiapan, dan mitigasi karhutla yang tercermin dari turunnya jumlah hotspot sejak 2016. Ini adalah sebagai hasil upaya bersama sesuai arahan khusus Presiden Joko Widodo dalam forum rapat koordinasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun digelar.

Pertemuan TWG/MSC tahun ini merupakan pertemuan ke-20 yang dihadiri oleh menteri/perwakilan yang bertanggung jawab atas lingkungan, untuk lahan kebakaran hutan dan kabut asap, yaitu dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, serta Sekretariat ASEAN. Pertemuan TWG diselenggarakan sehari sebelum pelaksanaan pertemuan MSC. Masing-masing negara menyampaikan perkembangan kondisi karhutla serta kondisi asap sebagai dampak karhutla. Dari Indonesia diwakili oleh Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, dan Direktur Kerjasama Sosial dan Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri. Hasil dari pertemuan TWG ini menjadi bahan dalam Pertemuan MSC yang merupakan pertemuan tingkat Menteri masing-masing negara.

Dalam pertemuan TWG, bertindak sebagai Ketua Delegasi Indonesia adalah Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Raffles B. Panjaitan. Raffles menyampaikan bahwa adanya perubahan paradigma penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, dari yang semula prioritas pada pemadaman pada saat fase krisis, namun pasca tahun 2015 lebih mengutamakan aspek-aspek pencegahan.

”Kejadian kebakaran Tahun 2015 menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia, bahwa upaya pencegahan sangat penting dalam pengendalian karhutla.asean3 Oleh karena itu, pasca peristiwa itu kami menekankan untuk melakukan pencegahan karhutla sejak dini untuk meminimalisir terjadinya karhutla yang besar yang berdampak pada kabut asap”, ungkap Raffles.

Dalam pertemuan MSC, hadir mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim yang juga bertindak sebagai Ketua Delegasi MSC dari Indonesia, I.B. Putera Parthama. Putera menyampaikan bahwa Indonesia terus mengajak kepada negara-negara anggota ASEAN untuk terus meningkatkan kemampuan National Monitoring Centre masing-masing negara agar dapat berkontribusi dan menjalankan peran sentralnya dalam monitoring dan assessment terhadap asap lintas batas.

Para menteri lima negara yang hadir pada pertemuan MSC sepakat bahwa akan tetap waspada dan akan memantau serta meningkatkan upaya pencegahan karhutla untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kabut asap lintas batas selama periode musim kering. Para menteri juga menegaskan kembali kesiapsiagaannya untuk memberikan bantuan, seperti dukungan sumber daya teknis pemadaman karhutla pada situasi tanggap darurat dan akan bekerjasama antara negara anggota ASEAN dengan saling berkoordinasi untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan jika diminta oleh suatu negara.

Pertemuan ke-20 TWG/MSC 20 menghasilkan tiga keputusan penting, yaitu : 1) Menyepakati untuk terus mendukung Indonesia dalam hal pendirian ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC) yang saat ini tengah dalam proses finalisasi establishment agreement; 2) Menyepakati usulan Indonesia agar mid-term review atas ASEAN HazeFree Roadmap 2020 dilakukan dengan menggunakan Haze Fund yang memerlukan persetujuan negara anggota ASEAN untuk memastikan objektivitas dan netralitas konsultan pelaksana; 3) Menyepakati usulan Indonesia untuk menunggu input paling lambat akhir Juni 2018 dari AMS yang tidak hadir dalam TWG/MSC 20 atas paper Streamlining of Haze Related Meetings sebelum dilaporkan pada COM/COP-14.

Sementara itu, Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Hari Minggu, pukul 20.00 WIB (03/06/2018), berdasarkan pantauan satelit NOAA terpantau lima titik, empat titik di Aceh dan satu titik di Sumatera Selatan. Sedangkan berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) terpantau satu hostpot di Kalimantan Barat.

Tags: Pengendalian Kebakaran Hutan

membagi informasi ini: