RAKOR HASIL MONITORING PROGRAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM SPARC - NTT

 

RAKOR HASIL MONITORING PROGRAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM SPARC - NTT

 

Program SPARC (Strategic Planning and action to strengthen climate resilience of Rural Communities) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memasuki tahun terakhir pada 2018 ini. Program kerjasama Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK dan Bappeda NTT dengan dukungan dana GEF/SCCF ini, baru saja melaksanakan kegiatan monitoring aset dan pengelolaan keuangan pelaksanaan Program SPARC di setiap Kelompok Masyarakat Program Kampung Iklim (Kemas ProKlim) pada pekan pertama bulan Maret 2018. Monitoring dilakukan di masing-masing 7 desa percontohan untuk Kabupaten Manggarai dan Sumba Timur.

Hasil monitoring di Kabupaten Manggarai menunjukkan pengelolaan aset secara umum sudah cukup baik. Aset yang ada berupa peralatan untuk menunjang kegiatan pertanian (hand tractor, mesin perontok padi), bangunan dan peralatan jaringan air bersih, dan perlengkapan/sarana untuk mendukung kegiatan produktif.Sementara itu, pengelolaan keuangan dipandang perlu untuk memperkuat manajemen administrasi dalam menunjang kelancaran program yang sebentar lagi akan berakhir. Rencana pengelolaan dana sisa akan dimanfaatkan untuk penyelenggaraan berbagai pelatihan terkait, pengadaan peralatan, perbaikan saluran irigasi, maupun perlindungan mata air.

Di Kabupaten Sumba Timur, monitoring dilakukan oleh tim yang terdiri dari perwakilan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Bappeda NTT, Bappeda Sumba Timur, UNDP SPARC, maupun LSM Koppesda.  Hasilnya adalah data daftar aset Program SPARC yang akan diserahkan kepada pemerintah desa (pemdes) setempat, seperti solar pump, broncap, dan lain-lain. Selama ini peralatan telah dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik. Pemeliharaan dan perbaikan aset menjadi tanggungjawab bersama antara Kemas ProKlim dan pemdes. Selain aset, monitoring menunjukkan pembukuan administrasi telah berjalan baik.

 

ada3Hasil monitoring selanjutnya menjadi bahan Rapat Koordinasi (Rakor) yang dipimpin oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK dan dihadiri oleh perwakilan Bappeda NTT, Kepala Bappeda Manggarai, Tim Teknis Perubahan Iklim Kabupaten Manggarai yang terdiri dari berbagai SKPD, LSM Pendamping Tunas Jaya, para ketua Kemas ProKlim, fasilitator desa, dan kepala desa. Dalam kesempatan tersebut Direktur Adaptasi Perubahan Iklim memberikan arahan tentang optimalisasi potensi sumberdaya untuk pelaksanaan adaptasi perubahan iklim, baik untuk melanjutkan program SPARC yang telah berjalan maupun pengembangan dan perluasan program. Selain itu, beliau juga menyampaikan perlunya menyusun strategi untuk memperluas dan replikasi kegiatan SPARC dengan melibatkan para pihak terkait maupun sistem pembiayaan. Rakor menghasilkan keputusan mengenai pengelolaan aset untuk keberlanjutan program diserahkan kepada Kemas ProKlim, peningkatan kapasitas anggota Kemas ProKlim, dan replikasi Program SPARC dengan menggunakan dana desa. 

membagi informasi ini: