• Beranda
  • Berita
  • PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KARHUTLA, MENGUBAH POLA PIKIR MASYARAKAT UNTUK TIDAK MEMBAKAR

PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KARHUTLA, MENGUBAH POLA PIKIR MASYARAKAT UNTUK TIDAK MEMBAKAR

 

Brigade Dalkarhutla KLHK - Manggala Agni, bersama dengan TNI, Polri, dan Masyarakat kembali melaksanakan patrol terpadu di delapan provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kedelapan provinsi ini meliputi Sumatera Utara (15 posko desa), Riau, Jambi (20 posko desa), Sumatera Selatan (60 posko desa) , Kalimantan Barat (60 posko desa), Kalimantan Tengah (55 posko desa), Kalimantan Selatan (20 posko desa), dan Kalimantan Timur (15 posko desa). Patrol terpadu periode IV yang dimulai serentak pada Jumat (22/09/2017) sampai dengan 21 Oktober 2017 ini akan membuat 300 posko desa dengan jangkauan mencapai 1203 desa rawan kebakaran hutan dan lahan. Tugas tim patrol terpadu adalah menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar dan melakukan groundcheck apabila terdeteksi hotspot di lapangan.Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, menegaskan patroli terpadu adalah suatu upaya pencegahan dengan menitik beratkan pada perubahan perilaku dan fasilitasi masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan. Proses perubahan perilaku membutuhkan waktu dan ketelatenan sehingga diperlukan kunjungan intensif kepada masyarakat agar tim patroli dan masyarakat akan saling terikat dalam satu hubungan yang baik.

“Setiap lokasi yang terpantau hotspot oleh satelit NOAA dan Terra Aqua/Nasa yang datanya didukung dari Posko Dalkarhutla KLHK, harus segera dilakukan groundcheck oleh para petugas di lapangan dan diupayakan penanggulangan sedini mungkin”, ungkap Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK.

Selain patroli terpadu terpadu yang telah berjalan, pemadaman juga masih terus dilaksanakan oleh Manggala Agni. Di Kalimantan Barat, pemadaman dini dilakukan Manggala Agni Daops Sintang di Dusun Sabang Laja, Desa Merpak, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, tikor N : 0.11106°, E  : 111.7046° seluas 0.3 ha. Pemadaman juga dilaksankan di Desa Nusa Kenyikap, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi, koordinat S : 00.362011°, E: 111.682653° seluas 0,75, kondisi api sudah padam.

Di Sumatera Selatan, Manggala Agni Daops Banyuasin melakukan pemadaman di tiga lokasi. Pertama, pemadaman pada lahan gambut di Desa Talang Pangeran Ilir, Kecamaatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir pada titik koordinat S 03.16218° E 104.70300° seluas 2 Ha. Kedua, pemadaman di Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir pada titik koordinat S : 02.90756° E : 104.63058° seluas 2 Ha. Ketiga, pemdaman pada tanah mineral di Kelurahan Air Batu, Kecamatan Talang Kelapa, Kab. Banyuasin di titik koordinat S 02.90756° E 104.63058° seluas 1 Ha.

Selain itu Daops Lahat, Sumatera Selatan, juga melakukan pemadaman di tiga lokasi. Pertama, di Desa Kayu Ara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim pada koordinat S 03.12464 E 104.52541 seluas 1,5 Ha. Kedua, lokasi berada pada titik koordinat S 03.13216 E 104.53082 seluas 1,5 Ha. Ketiga, pemadaman di Desa Kayu Ara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kab Muara Enim Desa Paya Bakal, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, koordinat S 03.23073 E 104.43543 seluas 0,5 Ha.

Di Kalimantan Tengah, Manggala Agni melakukan groundchek hotspot pada koordinat S.-2.5814 E.111.1757 di Desa Babual Baboti Kec. Kotawaringin Lama Kab. Kobar dan ditemukan lahan bekas terbakar dengan luas lahan 0,5 ha.

Menurut informasi BMKG wilayah Kalimantan Barat, banyaknya jumlah hotspot yang terpantau pada 22 September 2017 di Kalimantan barat disebabkan oleh berkurangnya hujan di Kalimantan Barat dan bertambahnya nilai suhu udara. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain Kelembaban udara pada lapisan 850 mb hingga 700 mb menunjukkan mulai berkurang di sekitar wilayah Kalimantan Barat, adanya pusat tekanan rendah di sebelah timur Philipina, sehinga massa udara di Kalbar tertarik menuju timur Philipina, suhu terasa panas karna memang matahari sedang di ekuator, maka panas terasa menyengat, beberapa hal tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya hotspot dan atau fire spot pada beberapa lokasi di Kalimantan Barat.

Hasil pemantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, 22 September 2017 (laporan pukul 20.00 WIB), Satelit NOAA19 terpantau 102 titik hotspot dengan rincian Kalimantan Barat 94 titik (Kabupaten Sanggau, Sintang, Sambas, Ketapang. Sekadau, Melawi), Lampung 2 titik , dan masing –masing 1 titik di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Bangka Belitung, dan Sumsel. Total hotspot terpantau 2.197 titik, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 3.214 titik (berarti terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.017 titik / 31,64%).

Sedangkan informasi hotspot berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level >80%, terpantau 57 titik hotspot dengan rincian Kalimantan Barat 43 titik (Kabupaten Kayong Utara, Sanggau, Sintang, Sambas, Ketapang, Sekadau, Melawi); masing-masing 5 titik untuk Kalteng dan NTB; Jawa Barat 2 titik; dan masing-masing 1 titik untuk Lampung dan Jawa Timur. Total hotspot terpantau 1.561 titik, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 3.457 titik (berarti terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.896 titik / 54,84%).

3e7cb575-20e9-4fc5-ae09-cb7de630b2cc.jpg    666620cf-4b42-41bc-bce3-7a58ac30edde.jpg84ab31f8-75a2-4909-8edf-ac64ecf1d1a4.jpg

 

 

 

membagi informasi ini: