SOSIALISASI KAMPUNG IKLIM PULAU LIKI Menuju Kampung Ramah Iklim 2019

 

 

SOSIALISASI KAMPUNG IKLIM PULALIKI

Menuju Kampung Ramah Iklim 2019

Oleh Pieter Wamea, SH - PemerhatHL(LIPTEK-Papua)

Proklim Pulau Liki kini telah dimulai, artinya bahwa dukungan partisipasi masyarakat dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta mitra pembangunan terkait harus ikut terlibat secara langsung karena program ini merupakan program integrasi dari berbagai bidang/aspek pembangunan masyarakat.

likiOleh Pieter Wamea, SH - Pemerhati HL (LIPTEK-Papua) Sosialisasi Kampung Iklim Pulau Liki sebagai salah satu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan diawal program tsb. melibatkan seluruh aparat pemerintahan kampung, Bamuskam dan tokoh masyarkat, perempuan dan pemuda termasuk para majelis gereja setempat sebagai tokoh agama dan para guru sekolah dasar di pulau ini. Diawal sosialisasi ini, Kepala Distrik Sarmi Kota Silas Warbete, S.Sos memberi arahan umum kepada seluruh peserta termasuk aparat pemerintahan kampung agar pemaparan materi sosialisasi wajib diikuti secara cermat dan memanfaatkan sesi diskusi secara optimal karena apa yang disampaikan oleh nara sumber sebagai fasilitator merupakan permasalahan yang dialami secara langsung oleh warga masyarakatnya yang berada dan hidup di pulau terluar ini yang sedang mengalami ancaman perubahan iklim.


Kepala Dinas LH Kabupaten Sarmi Ir. Clemens rumbiak, MM selaku nara sumber pertama hanya memberikan informasi menyangkut Permen  .84 / MENLHK- SETJEN/KUM.1/11/2016  tentang Program Kampung Iklim (Proklim) yang terfokus pada pasal 10 mengenai Kategori Proklim terdiri dari 4 tahap yaitu Pratama, Madya, Utama dan Lestari. Sedangkan Pieter Wamea, SH selaku nara sumber kedua sekaligus sebagai fasilitator Proklim Pulau Liki yang telah melakukan study selama setengah tahun, manyampaikan materi sosialisasi dengan judul “Kampung Iklim Pulau Liki menuju kampung ramah iklim tahun 2019”. Pemaparan dimulai dengan pengertian dan proses Pemanasan Global (Global Warming) serta pengertian Perubahan Iklim (Climate Change) sehingga perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan terhadap kawasan yang sudah terpapar dampak perubahan iklim sebagaimana ditunjukan melalui foto citra satelit dan foto study lapangan lainnya.


Disampaikan pula beberapa pilihan langkah adaptasi lingkungan dalam menghadapi perubahan musim angin dan ombak maka mesyarakat perlu menentukan alternatif mata pencarian dan lain sebagainya. Dijelaskan pula bahwa Pulau Liki dipilih dan ditentukan sebagai Kampung Iklim di Kabupaten Sarmi karena memiliki nilai lebih yaitu Liki merupakan 1 dari 92 pulau terluar di Indonesia yang mana memiliki potensi sumber daya alam yang cukup tinggi sehingga sangat berpeluang untuk pembangunan bidang pariwisata berkelanjutan (sustainable eco-toursim) dan perikanan berkelanjutan(sustainable fisheries). Sekitar 75 warga yang mengikuti sosialisasi tersebut aktif dalam sesi diskusi tanya jawab, menandakan bahwa warga menyadari penuh akan dampak perubahan iklim tersebut telah menjadi ancaman yang pasti mendatangkan bencana bagi mereka. Wargapun menyadari bahwa proklim sudah merupakan kebutuhan bagi mereka dalam menghadapi persoalan abrasi yang sudah merubah garis pantai dan mundur
sekitar 75 – 100 meter itu.

Proklim Pulau Liki kini telah dimulai, artinya bahwa dukungan partisipasi masyarakat dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta mitra pembangunan terkait harus ikut terlibat secara langsung karena program ini merupakan program integrasi dari berbagai bidang/aspek pembangunan masyarakat. Pulau Liki sudah menjadi Kampung Iklim, dengan demikian Pulau Liki di Kabupaten Sarmi Papua kini telah ikut merawat bumi sebagaimana dikatakan oleh ahli Eco-teologi, Pdt. Dr. Karel Phil Erari sebagai senior advisor marine conservation untuk lembaga konservasi laut dunia, Papua Merawat Bumi.

membagi informasi ini: