• Beranda
  • Berita
  • Balai PPIKHL Wilayah Maluku Papua IDENTIFIKASI CALON KAMPUNG IKLIM DI NEGERI/DESA HARUKU PROVINSI MALUKU

Balai PPIKHL Wilayah Maluku Papua IDENTIFIKASI CALON KAMPUNG IKLIM DI NEGERI/DESA HARUKU PROVINSI MALUKU

Balai PPIKHL Wilayah Maluku Papua

IDENTIFIKASI CALON KAMPUNG IKLIM DI NEGERI/DESA HARUKU PROVINSI MALUKU

Haruku, 25-26 Agustus 2017

Sebenarnya sudah sangat banyak dan sejak dahuluaksi-aksi atau upaya penyelamatan lingkungan yang telah dilakukan oleh ‘Kewang’ (pelaksana adat lingkungan) Negeri/Desa Haruku, pengakuan beberapa orang anggota kewang yang turut aktif dalam sesion diskusi “Identifikasi Calon Kampung Iklim di Negeri Haruku”, mungkin bahasanya atau istilah yang dipakai adaptasi, mitigasi perubahan iklim yang masih baru dan viral dipublikasikan.

Keberadaan kewang di Maluku sendiri termasuk kewang Haruku sudah ada sejak tahun 1600-an berdasarkan referensi “Kapata Kewang Haruku dan Sasi Aman Haru-Ukui” hasil coretan tinta Bapak Eliza Kissya, yang tidak lain adalah Kepala Kewang Negeri Haruku. Jabatan sebagai kepala kewang pun melekat pada marga/klan Kissya dan tidak bisa dijabat oleh orang atau marga/klan yang lain. Om Eli sendiri adalah turunan ke-6 sebagai pemangku jabatan Kepala Kewang Negeri Haruku sejak tahun 1979.

Eksistensi “sasi” yang sudah ada semenjak datuk-datuk di Haruku adalah tradisi atau kearifan lokal yang dilaksanakan untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan agar tetap lestari. Sasi memiliki makna yaitu suatu bentuk larangan mengambil hasil sumber daya alam tertentu dalam periode waktu yang telah ditetapkan sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumber daya hayati alam tersebut. Sasi memang sudah ada sejak purbakala, namun masih perlu ditingkatkan lagi, kata Ketua “Saniri” (Dewan adat) Negeri Haruku, Bapak Piter Mustamu.

Memang persyaratan mutlak dalam pengisian data Sistem Registri Nasional (SRN) sesuai Peraturan Dirjen PPI Nomor 01/2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Kampung Iklim (Proklim,) untuk pengusulan kampung iklim cukup banyak dan sedikit mengadopsi karakter wilayah-wilayah di Indonesia bagian Barat, sehingga untuk karakter wilayah Indonesia Timur khususnya Maluku dengan daerah kepulauan agak riskan dan sulit untuk diterapkan semuannya. (tehknik diversivikasi dan intesifikasi padi, biopori dll)

Walaupun demikian, hasil identifikasi tim, Haruku butuh sentuhan-sentuhan inovasi dan transfer teknologi. Negeri ini sangat rentan abrasi, baik dari laut tetapi juga sungai. Masyarakat setempat banyak beternak Babi yang bisa dimanfaatkan limbahnya sebagai energi biogas, 50% masyarakat masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar konsumsi rumah tangga. Sampah pun masih banyak bertebaran di pinggiran sungai walaupun sudah ada himbauan dan tempat pembuangan sampah.

Korps kewang dalam menyikapi problema lingkungan selama ini, tentu tidak tinggal diam, dengan ketentuan dan aturan-aturan sasi yang ada tetap dijalankan. Aksi yang dilakukan antara lain: a) Penimbunan batu dan penanaman kayu Nani Tuni (biasa disebut Pasat) untuk pencegahan abrasi air laut, b) Penanaman Bakau di pinggiran sungai Learisa Kayeli, c) Pembibitan anakan Cengkih, Pala dan Bakau, d) Transplantasi karang untuk Kewang dan masyarakat di pesisir pantai Haruku, e) Penetasan telur, pengembangbiakan dan penetasan telur Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), f) Penangkaran burung Momoa/ Maleo ( Eulipoa wallacei).

Masih banyak kegiatan-kegiatan penyadartahuan dan inovasi yang telah dilaksanakan oleh kewang Haruku, yaitu; 1) Pelatihan daur ulang sampah untuk anak-anak dan remaja, 2) Lomba melukis bertemakan lingkungan untuk anak-anak, 3) Lomba menulis opini tentang lingkungan untuk siswa/siswi SMP dan SMA, 4) Lomba bertutur dalam bahasa daerah antar siswa SD kerjasama dengan Balai Bahasa Provinsi Maluku.

Sebagai informasi tambahan, korps Kewang Haruku pernah menerima Penghargaan Lingkungan Hidup “Kalpataru” tahun 1985 oleh Presiden Soeharto kala itu, dengan ikon sasi yang terkenal sampai ke dunia Internasional, yaitu “Sasi Ikan lompa”, bahkan Prof. Emil Salim Menteri Lingkungan Hidup saat itu takjub dengan kearifan lokal Negeri Haruku Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku ini.

Om Eli juga banyak menerima penghargaan skala Nasional, dan bahkan sudah beberapa kali ke luar negeri (Spanyol, Thailand, Filipina, Jepang, Belanda dan Afrika Selatan) oleh karena jabatan dan fungsi sebagai kepala kewang Haruku yang tanpa pamrih “kalesang” (aktif peduli) lingkungan, walaupun tidak pernah dibayar oleh pemerintah alias swadaya sendiri.

Akhir kata saya mau sampaikan :

“DI MALUKU BANYAK KELAPA

JALANNYA PADAT BANYAK TIKUNGAN

BIAR ORANG MAU BILANG APA

KEWANG HARUKU PENYELAMAT LINGKUNGAN”

Rumah Kewang, Haruku, 26 Agustus 2017

Editor : Franky Tutuarima

membagi informasi ini: