• Beranda
  • Berita
  • Workshop Peningkatan Kapasitas Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara : Peningkatan Kapasitas Ahli dalam Penanganan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim pada Pulau-Pulau Kecil

Workshop Peningkatan Kapasitas Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Utara : Peningkatan Kapasitas Ahli dalam Penanganan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim pada Pulau-Pulau Kecil

 

Pada 3 Juni 2016, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim bekerjasama dengan Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI) Regional Maluku dan Maluku Selatan mengadakan Workshop Peningkatan Kapasitas Ahli Perubahan Iklim Regional Maluku dan Maluku Selatan dengan tema Peningkatan Kapasitas Ahli dalam Penanganan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim pada Pulau-Pulau Kecil.  Workshop dilaksanakan di Hotel Swiss-Bel Ambon dan diikuti oleh 109 orang peserta yang berasal dari Universitas Pattimura, Universitas Darussalam, Universitas Halmahera, Universitas Kristen Indonesia Maluku, Pemda Kota Ambon (Dinas Pertanian dan Kehutanan, Bappeda, Bakorluh, Dinas Kebersihan dan Pertamanan), UPT KLHK wilayah Maluku (BPHP XIV, BPSKL, BPKH IX, BPDASHL BKSDA), LIPI Ambon, Yayasan ARMAN, APIK USAID, Mercy Corps Indonesia, dan perwakilan Direktorat lingkup PPI.

Dalam arahannya, Dirjen PPI , Dr. Ir. Nur Masripatin M.For.Sc., menyampaikan  bahwa perubahan iklim memiliki konteks global, karena kita berbicara mengenai common atmosphere yang digunakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat dunia dan berbasis sains yang memerlukan kontribusi dari semua disiplin ilmu. Namun demikian, dimensi perubahan iklim dapat dipandang dari lingkup lokal, nasional/regional sampai global. Dampak yang terbesar perubahan iklim adalah kepada negara-negara sedang berkembang, oleh karena itu aksi mitigasi dan adaptasi merupakan kebutuhan.  Aksi mitigasi dan adaptasi selama ini bukan merupakan hal yang baru namun memerlukan komitmen tambahan sebagai kontribusi kita. Untuk konteks Maluku dan Maluki Utara, adaptasi punya muatan yang lebih besar. APIKI dibentuk untuk mengumpulkan para ahli yang berada di berbagai lembaga agar dapat berperan di berbagai level. Para ahli diharapkan dapat menjadi agen perubahan dan memberikan input bagi kebijakan lokal maupun nasional.  Selain itu di tingkat internasional, para ahli harus bisa membawa kepentingan nasional (mulai kepentingan pusat sampai desa). Selain itu, hal yang perlu menjadi perhatian adalah, hasil penelitian Indonesia sangat sedikit yang dimuat di jurnal internasional, sehingga tidak muncul dalam laporan IPCC. Untuk itu upaya mendorong agar peneliti Indonesia dapat mempublikasikan hasilnya dalam jurnal internasional akan terus ditingkatkan.

Narasumber dalam kegiatan tersebut sebanyak 11 (sebelas) orang yang menyampaikan beberapa topik, yaitu : (i) Kebijakan Peningkatan Kapasitas Perubahan Iklim (Direktur MS2R, Bappeda Ambon, APIKI regional Maluku & Maluku Utara), (ii) Mitigasi Perubahan Iklim (Universitas Halmahera, LIPI Ambon, Universitas Pattimura (2), Universitas Darussalam), dan (iii) Adaptasi Perubahan Iklim (Universitas Pattimura (2), APIK USAID).

Kebijakan Peningkatan Kapasitas Perubahan Iklim, Direktur MS2R menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas perubahan iklim merupakan proses transformasi pembangunan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat dan dunia usaha dalam mewujudkan pembangunan yang rendah emisi dan tangguh terhadap dampak perubahan iklim. peningkatan kapasitas bukan saja tanggung jawab Pemerintah namun seluruh masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan ini.

Implementasi kegiatan pengendalian perubahan iklim di Kota khususnya sudah masuk dalam salahsatu prioritas pembangunan Pemerintah Daerah Ambon, yaitu dalam program  “Penataan Ruang, Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Terluar dan Terdepan, Terluar serta Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kawasan Rawan Bencana.  Hal ini disampaikan perwakilan dari Bappeda Kota Ambon dengan memberikan contoh kegiatan antara lain : sosialisasi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, pengembangan kinerja pengelolaan persampahan, evaluasi target pencapaian penurunan emisi gas rumah kaca, dan sosialisasi pencegahan dan dampak kebakaran hutan dan lahan.

Selanjutnya dalam sesi Mitigasi Perubahan Iklim membahas beberapa topik, antara lain peningkatan CO2 di air laut, kondisi ekosistem pesisir dan biota laut dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim, potensi penyimpanan CO2 di jalur hijau, dan hutan kota sebagai penyerap CO2. Prof. Jubhar C. Mangimbulude, Rektor Universitas Halmahera, menyampaikan kajiannya tentang peningkatan CO2 di air laut dan menyimpulkan bahwa kematian terumbu karang,yang merupakan habitat dan sumber nutrien bagi ikandan juga merupakan habitat bagi beberapa komunitas bakteri yang berasosiasi dengan karang, mulai meningkat akibat proses asidifikasi air laut yang disebabkan oleh akumulasi CO2. Oleh karena itu pengurangan konsentrasi CO2di laut perlu menjadi perhatian khusus demi kelangsungan kehidupan organisme laut.  

Untuk sesi Adaptasi Perubahan Iklim membahas  beberapa topik, antara lain agroekonomi dengan Sistem Dusun di Ambon, pengelolaan resiko bencana alam akibat perubahan iklim, dan peran perempuan dalam menghadapi perubahan iklim. Dr. Wardis Girsang dari Universitas Pattimura menyampaikan bahwa Provinsi Maluku merupakan wilayah berciri kepulauan yang sensitif terhadap perubahan iklim dan bencana alam, oleh karena itu adaptasi terhadap perubahan iklim sangat penting artinya bagi Provinsi Maluku. Maluku memiliki sumberdaya alam pertanian dan kelautan yang cukup melimpah yang terintegrasi dari hutan ke coral reef yang disebut sebagai sistem dusun”. Di lain pihak, Dr. Sahusilawane dari Univeritas Pattimura menyampaikan bahwa perempuan khususnya di Provinsi Maluku masih menyimpan sejumlah kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.  Kearifan lokal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. 

***

 

 

No.

Judul

Presenter

 

Link Download

1.

Keterpaduan Agenda Pengendalian Perubahan Iklim Internasional-nasional-Sub nasional

Dr. Ir. Nur Masripatin., M.Sc

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim

Click Here

2.

Peningkatan kapasitas Perubahan Iklim di Indonesia

Ir. Achmad Gunawan W., MAS

Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

Click Here

3.

Kajian Perkembangan Status APIK Indonesia Regional Maluku

Prof. Dr. Ir. Agustinus Kastanya.

Koordinator APIK Regional Maluku

Click Here

4.

Perkembangan Kegiatan Pengendalian Perubahan Iklim Provinsi Maluku

 

Bappeda Provinsi Maluku

Click Here

5.

Peningkatan CO2 Air Laut dan Komunitas Mikroba yang Berasosiasi dengan Terumbu karang

Jubhar C. Mangimbulude

Universitas Halmahera-Tobelo

Click Here

6.

Pemantauan Konndisi Pesisir dan Biota Laut di Pulau Ambon dalam kaitannya dengan isu Perubahan Iklim

Hanung Agus Mulyadi

Pusat Penelitian Laut Dalam-LIPI

Click Here

7.

Studi Potensi Penyimpanan Karbondioksida (CO2) di jakur Hijau pada Beberpa ruas jalan Utama di Kota Ambon

Christy C.V. Suhendy

 

Click Here

8.

Rehabilitasi Terumbu karang Teluk Ambon Sebagai Upaya untuk Mereduksi Emisi Carbon CC

Daniel D. Pelasula

Pusat Penelitian Laut Dalam-LIPI

Click Here

9.

Studi kebutuhan Hutan Kota Sebagai Penyerap CO2 di Kota Tobelo tahun 2012

Ronald Kondo Lembang

 

Click Here

10.

Adaptasi Petani Terhadap Perubahan Iklim-Agroekonomi Dusun dan ketahanan pangan di pulau-pulau kecil

Wardis Girsang

 

Click Here

11.

Perempuan menghadang perubahan iklim

AM Sahusilawani

 

Click Here

12.

Adaptasi Perubahan Ikim dan Ketangguhan di Maluku

 

Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan, a USAID Project

Click Here

 

Tags: Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

membagi informasi ini: