SINERGI ASEAN DALAM MENINDAKLANJUTI KESEPAKATAN PARIS DAN IMPLEMENTASI REDD+

 

Rabu, 27 April 2016, merupakan hari pertama dari rangkaian dua hari the 13thMeeting of ARKN-FCC di Atria Hotel Gaing Serpong, Tangerang. Pertemuan dihadiri oleh 14 delegasi yang mewakili lima negara anggota ASEAN yang terdiri dari  Kamboja, Indonesia, Laos, Filipina, dan Thailand berkumpul bersama bertukar pandangan mengenai peran penting hutan dan perubahan iklim. Pertemuan dibuka oleh Ir. Achmad Gunawan W., MAS, Direktur Mobilisasi Sumberdaya Regional dan Sektoral, selaku Koordinator ARKN-FCC. Ikut hadir pula perwakilan Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK selaku ASOF Leader Indonesia untuk memberikan sambutan, Perwakilan Sekretariat ASEAN, dan Perwakilan GIZ GAPCC selaku rekan penyelenggara. Pertemuan kali ini diadakan untuk merespon berbagai task arising dari Kesepakatan Paris dan keputusan COP-21 lainnya serta persiapan menghadapi Bonn Climate Conferece pada pertengahan Mei tahun ini.

pembukaan arknPada hari pertama, sesi pertama membahas pandangan umum mengenai bagaimana negara anggota ASEAN menyikapi  Paris Agreement  dan keputusan COP-21 lainnya. AMS berpandangan bahwa hutan dan REDD+ memiliki peran penting dalam aksi mitigasi. Poin penting lain yang menjadi sorotan adalah pengakuan aspek loss and damage pada sektor adaptasi, dukungan pendanaan, peningkatan kapasitas dan transfer teknologi negara maju terhadap negara berkembang diikuti dengan sistem transparansi yang fleksible, serta perlunya kerjasama antar pihak denga melibatkan peran serta non-state actors untuk mencapai tujuan global.

Pada sesi kedua, negara anggota ASEAN bertukar pandangan mengenai strategi masing-masing negara dalam menerjemahkan Intended Nationally Determined Contributions (INDCs) menjadi Nationally Determined Contribution (NDC). Komitmen untuk selalu konsisten dan menyelesaikan NDC sesegera mungkin menjadi spirit utama negara anggota ASEAN dalam mempersiapkan masing-masing NDC untuk berkontribusi secara global. Sektor energi, industri, transportasi, limbah, kehutanan, pelelolaan lahan, serta pertanian menjadi area fokus utama penurunan emisi gas rumah kaca.

Pertemuan hari pertama ditutup dengan acara jamuan makan malam sebagai jamuan selamat datang bagi para delegasi. Seluruh delegasi dari berbagai negara berbaur dalam suguhan makan malam yang menyediakan kuliner lokal Indonesiadi Ivory Private Dining Hall. Suasana hangat makan malam serta interaksi akrab para delagasi mencerminkan betapa harmonisnya hubungan antara negara anggota ASEAN.

sesi makan malam arkn

Pada hari kedua sesi pertama, Koordinator ARKN-FCC menyampaikan ringkasan pertemuan hari pertama dilanjutkan dengan diskusi terhadap hasil desk study dari Dr. Unna Chukkalingam, konsultan GIZ GAPCC, yang memaparkan hasil penelitiannya mengenai berbagai perkembangan implementasi REDD+ di setiap negara anggota ASEAN. Hasil diskusi pada sesi tersebut menyimpulkan terdapat tantangan serta peluang ASEAN untuk meningkatkan kerjasama dalam penyiapan REDD+ secara penuh di tingkat nasional dan subnasional.

Untuk sesi berikutnya, dilanjutkan dengan diskusi peluang posisi bersama ASEAN. Secara umum AMS berpandangan bahwa further guidance dalam adaptasi dan mitigasi tidak diperlukan karena akan menambah beban bagi negara berkembang. Perwakilan negara anggota ASEAN juga berpendapat bahwa diperlukan publik registry untuk NDC yang sederhana, berbasis sistem yang ada dan memperhatikan kondisi masing-masing negara khususnya negara berkembang, yang dikelola oleh Sekretariat UNFCCC. Pertemuan juga berpandangan bahwa negara anggota ASEAN perlu meningkatkan koordinasi dan komunikasi negara ASEAN termasuk koordinasi di sela-sela persidangan Bonn Climate Conference serta COP.

koordinator arkn memimpin pertemuan

Sesi berikutnya, dilakukan review terhadap Program Kerja ARKN-FCC yang disusun dalam kerangka waktu 2016-2017, dimana program kerja tersebut harus merujuk pada implikasi Keputusan Paris dan COP-21 lainnya, Strategic Plan of ASEA (SPA) dan isu lain terkait Sutainable Development Goals (SDGs). Dalam kesempatan ini, dipaparkan pula usulan ToR dan RoP badan-badan subsider dibawah ASOF termasuk ARKN-FCC oleh ASEAN Sekretariat melalui konsultannya. Pertemuan berpandangan bahwa ToR ARKN-FCC yang ada masih dianggap relevan, namu memerlukan beberapa perubahan mengikuti perkembangan global. Diputuskan, ToR ARKN-FCC yang ada akan dibahas dan ditinjau ulang pada pertemuan kedua ARKN-FCC pada September mendatang.

Pertemuan ke-13 ARKN-FCC di Tangerang, ditutup langsung oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Sebagai penutup, diadakan acara pengambilan foto bersama serta pemberian cendera mata kepada para delegasi.[]

Tags: Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional

membagi informasi ini: